Tidak menjampi kecuali dengan al-Qur’an mathur

Siri 10 Muwasofat

Mustawa

Pemula

Muwasofat

Aqidah Yang Sejahtera (سليم العقيدة)

Ciri Muwasofat

  • Tidak menjampi kecuali dengan al-Qur’an mathur

Berkata Ustaz Hasan Al-Banna:

“Tangkal, jampi mentera, kulit kerang yang dijadikan pendinding, menilik dengan cara melukis di pasir, tenung nasib, sihir dan dakwaan mengaku mengetahui perkara ghaib, semua ini adalah kemungkaran yang wajib diperangi, KECUALI jampi daripada ayat al Quran atau jampi yang diterima daripada Rasulullah SAW.” (Usul 4, Usul Isyrin)

Jampi, mantera atau istilah arabnya ruqyah adalah kalimat-kalimat tertentu yang diucapkan yang menjadi kebiasaan orang jahiliyah untuk menolak bala, menyembuhkan penyakit dan sebagainya dengan kaedah meminta pertolongan kepada jin, atau dengan menyebut nama-nama asing dan kata-kata yang tidak difahami.

Hal ini diharamkan Islam sebagaimana sabda Nabi SAW;

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

 “Sesungguhnya jampi-jampi, tangkal-tangkal[i] dan sihir tiwalah[ii] adalah syirik”. (HR Imam Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Ibnu Mas’ud ra.)

“Sesungguhnya ruqyah, tamimah, dan tiwalah (sesuatu yang dibuat dengan anggapan menjadikan suami/istri mencintai pasangannya, sering disebut guna-guna) adalah syirik” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibn Majah)

Ruqyah yang dimaksudkan oleh hadis di atas adalah ruqyah yang berisi permohonan pertolongan kepada selain daripada Allah SWT. Ini adalah perbuatan yang dilarang dan Rasulullah SAW Mengatakan bahwa ianya adalah perbuatan syirik kepada Allah SWT.

 

Ruqyah yang haram

Para ulama berpendapat pada dasarnya ruqyah secara umum dilarang, kecuali ruqyah syariah. 

Mantera/jampi yang haram adalah yang di dalamnya terdapat permohonan bantuan kepada selain Allah, atau dengan selain Bahasa Arab. Mantera yang demikian boleh menjatuhkan pelakunya kepada kafir kerana ucapan yang mengandungi unsur-unsur kesyirikan kepada Allah SWT.

Di dalam masyarakat kita, terdapat Tok Bomoh dan seumpamanya (Guru Silat dll) yang menggunakan jampi atau mentera yang menyeru khadam-khadam (jin) untuk meminta pertolongan bagi membantu merawat para pesakit. Kebiasaannya jampi tersebut dimulai dengan bacaan Basmallah (بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ), salam, sebutan nama Nabi, nama-nama Khalifah dan disudahi dengan menyebut Lailahailll Allah Muhammadar Rasulullah atau sebutan syahadah. Unsur syirik (menyamatarafkan Allah SWT dengan makhluk) terdapat di dalam seruan di tengah-tengah jampi tersebut yang berupa seruan kepada Jin yang diperintahkan untuk datang untuk meminta pertolongan terhadap sesuatu seperti mengganggu orang-orang tertentu, merasuk, menguasai roh orang berkenaan membolehkan orang yang  berkenaan hilang akal, sasau atau sebagainya.

Perlu difahami bahwa sebutan kalimah-kalimah Islami tidak menjamin amalan yang dilakukan tersebut sesuai dengan amalan Islam bahkan ianya menjurus kepada kekeliruan kepada orang awam, penyimpangan aqidah dan penghinaan terhadap keagungan Allah SWT.

“Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidaklah ada bagimu sebarang kuasa untuk menyesatkan mereka, kecuali sesiapa yang menurutmu dari orang-orang yang sesat (dengan pilihannya sendiri)”. (Al-Hijr : 42)

 

Ruqyah yang jaiz/boleh

Adapun ruqyah yang menggunakan Asma, sifat, firman Allah, dan pernah dicontohkan Rasulullah, maka hukumnya jaiz/boleh, bahkan dianjurkan. Seperti yang ditunjukkan oleh hadits Imam Muslim :

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ قَالَ: كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ فَقَالَ اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ

Dari Auf bin Malik ra, berkata: “Saya pernah meruqyah di masa jahiliyyah, lalu saya bertanya kepada Rasulullah: “Bagaimana menurutmu Ya Rasulallah? Sabda Nabi : “Tunjukkan kepadaku jampi-jampi kalian, tidak apa-apa selama tidak mengandung syirik”.

قَالَ أَبُو الزُّبَيْرِ وَسَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ لَدَغَتْ رَجُلاً مِنَّا عَقْرَبٌ وَنَحْنُ جُلُوسٌ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرْقِي قَالَ : مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ

Abu Zubair berkata: Aku dengar Jabir bin Abdullah berkata, seorang lelaki daripada kami telah disengat kala jengking. Ketika itu kami duduk bersama Rasulullah SAW  Maka berkata seorang lelaki : “Wahai Rasulullah SAW ! Bolehkah aku jampi ?” Baginda SAW bersabda : “Barangsiapa yang mampu di antara kamu untuk memberi manfaat kepada saudaranya maka hendaklah dilakukan.” (HR Riwayat Muslim)

Imam Nawawi, Ibn Hajar, dan As Suyuti memperbolehkan ruqyah selain yang tersebut di atas dengan syarat :

  1. Menggunakan kalamullah, asma’ atau sifat-Nya
  2. Menggunakan Bahasa Arab atau diketahui maknanya
  3. Berkeyakinan bahwa ruqyah tidak mempunyai pengaruh dengan sendirinya, akan tetapi kerana taqdir Allah yang berkuasa.

 

Rasulullah SAW mengajarkan Ruqyah menggunakan Al-Qur’an

Firman Allah SWT:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” Surah Al-Isra’: 82

Dan Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” Surah Yunus: 57

Telah berkata Imam Ibn Qayyim: Al-Quran adalah penawar yang lengkap bagi semua jenis penyakit hati dan penyakit badan, penyakit dunia dan penyakit akhirat. Dan bukan semua orang layak dan berjaya untuk berubat dengan al-Quran. Jika orang mengubati itu menggunakan penawar ini dengan keyakinan dan keimanan, penerimaan yang penuh, iktikad yang kuat serta menepati semua syaratnya, maka tiada penyakit yang dapat mengatasinya.

Bagaimana penyakit mampu untuk mengatasi Kalam Tuhan sekalian bumi dan langit yang jika diturunkan kepada gunung akan berkecai atau diturunkan ke atas bumi akan terbelah?! Tidak ada suatu penyakit hati dan badan melainkan terdapat di dalam Al-Quran dalil yang menunjukkan ubat dan sebabnya. (Zadul Ma’ad: 4/322-323)

Imam Ibn Qayyim menyebut contoh Ruqyah yang digunakan untuk menjaga kesihatan dan mengubati penyakit.

Pertama: Menjaga Kesihatan, contohnya ada disebut dalam Sahih Bukhari dan Muslim:

Diriwayatkan dari Aisyah: Setiap kali Rasulullah SAW hendak tidur (malam hari) Nabi SAW menangkupkan kedua tangannya dan meniupnya setelah membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan Al-Nas, lalu mengusapkannya ke seluruh bagian tubuhnya. Dimulai dari kepala, wajah, dan bahagian depan tubuhnya. Nabi SAW melakukannya tiga kali.

Contohnya lagi dalam Sahih Bukhari dan Muslim:

Dari Ibnu Mas’ud Al Anshari r.a., katanya Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang membaca kedua ayat itu, yakni dari akhir surah Al-Baqarah, nescaya keduanya akan memeliharanya dari bencana.”

Kedua: Mengubati penyakit, contohnya ruqyah dengan surah al-Fatihah seperti apa yang disebut dalam Sahih Bukhari dan Muslim:

Diriwayatkan dari Abu Sa’id r.a.: Sebagian para sahabat Nabi SAW melakukan perjalanan hingga malam hari mereka tiba di suatu tempat yang menjadi daerah kekuasaan suatu suku Arab. Para sahabat Nabi SAW meminta para penduduk untuk memperlakukan mereka sebagai tamu, tetapi mereka menolak. Kepala suku Arab itu digigit seekor ular berbisa dan orang-orang dari suku itu berusaha mengubatinya tetapi sia-sia. Mereka berkata (satu sama lain), “Tidak ada yang dapat mengubatinya, pergilah kamu menemui orang-orang yang tinggal di daerah ini malam ini, mungkin mereka memiliki ubat penawar racun.”

Beberapa orang menemui para sahabat nabi SAW dan berkata,”Wahai Kafilah pemimpin kami digigit ular berbisa. Kami telah berusaha mengubati semampu, tetapi sia-sia. Apakah kalian memiliki ubatnya?” Salah seorang dari sahabat nabi SAW berkata, “Ya, Demi Allah! Aku akan membaca ruqyah untuknya, tetapi kerana kami telah ditolak menjadi tamu kalian aku tidak dapat membacakan ruqyah kecuali apabila kalian memberikan kami upah untuk itu.”

Mereka setuju membayar dengan sejumlah biri-biri. Kemudian salah seorang sahabat nabi SAW pergi (Ke tempat mereka) dan membaca (ayat dari surah AlFatihah): Alhamdulillah Rabbal-alamin (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam), dan menipu tubuh si kepala suku yang seketika tampak sihat kembali, seakan-akan telah terbebas dari semacam ikatan, lalu bangun dan mulai berjalan, tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan, mereka pun membayar dengan upah yang telah disepakati sebelumnya.

Sebagian dari mereka (Para sahabat Nabi SAW menyarankan agar mereka membagi rata upah itu, tetapi salah seorang dari mereka menolak dan berkata, “Jangan dahulu dibagikan sebelum kita bertemu dengan Rasulullah SAW , untuk menceritakan apa yang telah kita alami, dan menunggu perintahnya.”

Maka mereka pun pergi menemui Rasulullah SAW setelah mendengar seluruh cerita mereka, Rasulullah SAW bersabda, “Bagaimana kamu tahu Surah Al-Fatihah dapat dibacakan sebagai ruqyah?” Kemudian Nabi SAW menambahkan, “Apa yang telah kalian lakukan benar. Bagi rata upah kalian, dan berilah aku bagian.” Sambil mengatakan hal itu Rasulullah SAW tersenyum jenaka.

 

Ruqyah Dzatiyah

Rasulullah SAW dalam berbagai kesempatan menyampaikan kepada para sahabatnya untuk melakukan ruqyah dzatiyah, yaitu seorang mukmin melakukan penjagaan terhadap diri sendiri dari berbagai macam gangguan jin dan sihir. Hal ini lebih utama dari meminta diruqyah orang lain. Dan pada dasarnya setiap orang beriman dapat melakukan ruqyah dzatiyah. Berkata Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa,” Sesungguhnya tauhid yang lurus dan benar yang dimiliki seorang muslim adalah senjata untuk mengusir syathon”.

Beberapa hadits di bawah adalah anjuran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang beriman untuk melakukan ruqyah dzatiyah;

“من قرأ آية الكرسي في دبر الصلاة المكتوبة كان في ذمة الله إلى الصلاة الأخرى”

“Siapa yang membaca ayat Al-Kursi setelah shalat wajib, maka ia dalam perlindungan Allah sampai shalat berikutnya” (HR At-Tabrani).

عن عبد الله بن خُبَيْبٍ عن أَبيهِ قالَ: “خَرَجْنَا في لَيْلَةٍ مَطِيرَةٍ وظُلْمَةٍ شَدِيدَةٍ نَطْلُبُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يُصَلّي لَنَا قالَ فأَدْرَكْتُهُ فقالَ: قُلْ. فَلَمْ أَقُلْ شَيْئاً. ثُمّ قالَ: قُلْ فَلَمْ أَقُلْ شَيْئاً. قالَ قُلْ فَقُلْتُ مَا أقُولُ قال قُلْ: قُلْ {هُوَ الله أَحَدٌ} وَالمُعَوّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِي وتُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلّ شَيْء”.

Dari Abdullah bin Khubaib dari bapaknya berkata, ”Kami keluar di suatu malam, keadannya hujan dan sangat gelap, kami mencari Rasulullah SAW untuk mengimami kami, kemudian kami mendapatkannya.” Rasul SAW berkata,” Katakanlah”. “ Saya tidak berkata sedikit pun”. Kemudian beliau berkata, “Katakanlah.” “Sayapun tidak berkata sepatahpun.” “Katakanlah, ”Saya berkata, ”Apa yang harus saya katakan?“ Rasul bersabda, ”Katakanlah, qulhuwallahu ahad dan al-mu’awidzatain ketika pagi dan petang tiga kali, nescaya cukup bagimu dari setiap gangguan.” (HR Abu Dawud, At-tirmidzi dan an-Nasa’i)

مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

“Siapa yang membaca dua ayat dari akhir surat Al-Baqarah setiap malam, maka cukuplah baginya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

مَنْ نَزَلَ مَنْزلاً ثُمَّ قالَ: أعُوذُ بِكَلِماتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرّ مَا خَلَقَ، لَم يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذلكَ”.‏

“Siapa yang turun di suatu tempat, kemudian berkata, ‘A’udzu bikalimaatillahit taammaati min syarri maa khalaq’, niscaya tidak ada yang mengganggunya sampai ia pergi dari tempat itu.” (HR Muslim)

Oleh kerana itu orang beriman harus senantiasa melakukan ruqyah dzatiyah dalam kesehariannya. Hal-hal yang harus dilakukan dengan ruqyah dzatiyah adalah:

  1. Memperbanyak dzikir dan doa yang ma’tsur dari Nabi SAW, khususnya setiap pagi, petang dan setelah selesai shalat wajib.
  2. Membaca Al-Qur’an rutin setiap hari
  3. Meningkatkan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah.
  4. Menjauhi tempat-tempat maksiat
  5. Mengikuti majlis ta’lim dan duduk bersama orang-orang shalih.

[i] Al-Tamimah atau tangkal ialah sesuatu yang digantungkan atau dipakaikan kepada anak-anak atau selainnya bertujuan menolak ‘Ain, Sihir, penyakit dan seumpamanya. Ia juga membawa maksud setiap sesuatu yang digantung di badan, di kereta, di rumah, di kedai dan seumpamanya bertujuan menolak ‘Ain dan kejahatan Jin atau dapat mendatangkan kebaikan.

[ii] At-Tiwalah ialah sejenis sihir pengasih iaitu yang digunakan untuk menjadikan seorang perempuan dikasihi oleh seorang lelaki

Leave a Comment