Suka menyebarkan salam

Siri 10 Muwasofat

Mustawa

Pemula

Muwasofat

Ibadah Yang Sejahtera (صحيح العبادة)

Ciri Muwasofat

Suka menyebarkan salam

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Inilah sejumlah kata-kata yang ringan, mudah dan biasa kita sebut namun semakin terpinggir daripada kebudayaan masyarakat kita melainkan hanya disebut dalam keadaan yang tertentu. Terkadang sapaan yang bentuknya kurang Islam seperti ‘Hi’, ‘Hello mama’ terasa lebih dekat untuk digunakan akibat pengaruh media barat yang leluasa.

Islam meletakkan nilai yang tinggi kepada ucapan salam kerana ia merupakan salah satu daripada identiti kita bangsa Muslim. Padanya terkandung banyak buah kebaikan yang bermuat doa dan menumbuhkan rasa saling cinta sesama Muslim, biarpun saling tidak mengenali. Padanya juga adalah kaedah pembuka kepada bicara yang penuh mesra dengan senyuman dan penghormatan. Apatah lagi apabila ucapan itu ditambah lagi dengan doa-doa lainnya maka akan bertambahlah ikatan cinta.

Abdullah bin Harits bin Hazm r.a. berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyum melebihi Rasulullah SAW.”

Dan Nabi SAW memasukkan ucapan salam sebagai salah satu daripada enam (6) hak muslim yang harus dipenuhi saudaranya.

Abu Hurairah r.a. menyampaikan kepada kita bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Hak muslim yang mesti dilakukan terhadap muslim lainnya itu ada enam.” Ada yang bertanya, “Apakah yang enam itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Jika kamu bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; jika ia mengundangmu, datangilah; jika ia minta nasihat, nasihatilah; jika ia bersin lalu memuji Allah, doakanlah; dan jika ia sakit, jenguklah ia; jika ia meninggal, maka hantarkanlah jenazahnya.”

Menyebarkan salam itu adalah petanda cinta sesama orang-orang yang beriman.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

Abu Hurairah r.a. juga menyampaikan bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Demi Allah, kamu tidak akan masuk syurga hingga kamu beriman; dan kamu tidak akan beriman, kecuali jika kamu saling mencintai. Senangkah kamu jika aku tunjukkan kepada sesuatu yang jika kamu melakukannya kamu akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antaramu.” (HR. Muslim)

عن عبد الله بن عمرو أن رجلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم : أَيُّ الإِسْلاَمِ خيرٌ ؟ قَالَ: تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لـَمْ تَعْرِفُ. رواه البخاري

Dari Abdullah bin Amr (bin ‘Ash) radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Amalan Islam apakah yang baik?” Beliau bersabda: “Engkau memberi makan, dan mengucapkan SALAM kepada orang yang kau kenal dan yang tidak kau kenal.” (HR. Bukhari)

Makna Salam

as-salaam 

adalah salah satu nama Allah swt.

as-salaamu 

juga bererti as-salaamah, keselamatan.

assalamu’alaikum

keselamatan dari Allah menyertaimu.

(kum) bermaksud kalian, meskipun diucap kepada seorang tetapi ucapan itu sampai kepada para malaikat di sekitar

assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh

semoga keselamatan dari Allah menyertaimu, begitu juga rahmat dan berkah-Nya.

Hukum menyebarkan salam

Mengucapkan salam itu sunnah dan menjawabnya wajib.

Dalam menjawab salam boleh melebihkan dan tidak boleh menguranginya.

Dan apabila kalian diucapkan salam penghormatan, balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah (dengan yang serupa)…” (QS. An-Nisa`: 86)

Dari Ali bin Abi Thalib r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Dicukupkan bagi suatu kelompok (jama’ah) jika berlalu untuk mengucapkan salam salah satu di antara mereka, dan cukuplah dari jama’ah (kelompok) untuk menjawab salam (oleh) salah satu di antara mereka.”

Ganjaran menyebarkan salam

Imran bin Husain ra. mengatakan seorang datang kepada Nabi SAW dan mengucapkan “Assalamu’alaikum”, maka dijawab oleh Nabi SAW. Kemudian ia duduk. Nabi berkata, “Sepuluh”. Kemudian datang pula seorang yang lain memberi salam “Assalamu’alaikum Warahmatullahi”. Setelah dijawab oleh Nabi SAW, ia duduk. Nabi pun berkata “Dua puluh”. Kemudian orang ketiga datang dan mengucapkan “Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuhu”, maka dijawab oleh Nabi SAW dan Nabi berkata “Tiga puluh”. (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi)

Aturan Salam

a)      Dalam menyebarkan salam ada aturan-aturan yang harus dipahami oleh seorang muslim, diantaranya :

  1. Ketika memasuki rumah (QS. An Nuur (24) : 61)
  2. Ketika bertemu dan hendak berpisah
  3. Orang yang berkendaraan lebih dahulu salam kepada yang berjalan kaki
  4. Yang berjalan lebih dahulu salam kepada yang duduk
  5. Yang sedikit kepada yang banyak
  6. Yang lebih dahulu salam yang lebih baik
  7. Setelah bertemu lalu terpisah (oleh pohon, dinding atau batu diperjalanan kemudian bertemu kembali)
  8. Dianjurkan memberi salam pada anak-anak dan kaum wanita
  9. Tidak memberi salam kepada orang kafir (dilarang mendahului orang-orang Yahudi dan Nasrani dalam mengucapkan salam. Jika mereka mengucapkan salam kepada kita, maka jawabnya adalah “Wa’alaikum”. Namun boleh mengucapkan salam pada suatu majelis yang di dalamnya terhimpun orang-orang Islam, musyrikin penyembah berhala dan Yahudi)
  10. Ketika hendak memasuki dan meninggalkan majlis
  11. Berjabat tangan (dengan muhrim/sejenis)

b)      Hukum memberi salam kepada wanita

Imam Nawawi ra. berkata : “Sahabat-sahabat kami (para pengikut mazhab Syafi’i) mengatakan bahwa perempuan memberi salam kepada perempuan seperti halnya lelaki kepada lelaki. Adapun perempuan kepada lelaki (atau sebaliknya), maka menurut Imam Abu Sa’ad Al Mutawalli:

  1. Jika perempuan itu isterinya atau budak perempuannya atau salah seorang mahramnya, maka hukumnya seperti memberi salam kepada lelaki sehingga dianjurkan salah satu dari keduanya untuk memulai memberi salam kepada yang lain dan salam itu wajib dijawab oleh yang diberi salam.
  2. Jika perempuan itu perempuan asing (bukan mahramnya), maka jika dia cantik dikhawatirkan dapat terjadi fitnah, kerana itu tidak boleh lelaki memberi salam kepadanya. Kalau dia tetap memberi salam juga maka salamnya tidak berhak dijawab. Jika dia tetap menjawab salam perempuan itu maka itu suatu kejelekan baginya. Jika dia seorang perempuan tua yang tidak dikhawatirkan timbulnya fitnah maka dia boleh memberi salam kepada lelaki dan salam itu wajib dijawab.
  3. Jika perempuan itu banyak jumlahnya, maka seorang lelaki boleh memberi salam kepada mereka. Demikian juga sejumlah lelaki boleh memberi salam kepada seorang perempuan, jika masing-masing dari mereka tidak khawatir akan terjadi suatu fitnah. 

Didiklah anak-anak dengan akhlak dan ucapan yang mulia

1. Ketika Anas bin Malik r.a. masih kecil, seringkali Rasulullah saw. mengucapkan salam ketika bertemu dengan anak-anak kecil dan hal ini pun diteruskan oleh Anas r.a.. Beliau menceritakan bahwa,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ n مَرَّ عَلَى غِلْمَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ

Rasulullah SAW. pernah bertemu dengan anak-anak kecil lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka.” (HR. Muslim)

2. Rasulullah SAW. mengajarkan bahwa yang muda mengucapkan salam kepada yang tua,

يُسَلِّمُ الصَّغِيْرُ عَلَى الْكَبِيْرِ، وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ، وَالْقَلِيْلُ عَلَى الْكَثِيْرِ

Yang kecil memberi salam kepada yang besar, yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, yang sedikit memberi salam kepada yang banyak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

3. Agar tiada pencuri yang masuk ke rumah tanpa sedar, Allah SWT. mengajarkan,

Allah SWT berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (QS. An Nuur (24) : 27).

Bakhil itu berat lidah untuk mengucapkan salam

Abu Hurairah r.a. pernah mengatakan:

أَبْخَلُ النَّاسِ الَّذِي يَبْخَلُ بِالسَّلاَمِ

Orang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil untuk mengucapkan salam.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 795: shahih secara mauquf, shahih juga secara marfu’)

Wallahu ta’ala a’lamu bish­-shawab.

Leave a Comment