Menjaga Penampilan

Siri 10 Muwasofat

Mustawa

Pemula

Muwasofat

Tersusun dalam urusan hidup (منظم في شئونه)

Ciri Muwasofat

Penampilan yang elok

 

اللَّهُمَّ أَغْنِنِي بالعِلْمِ، وَزَيِّنِّي بِالحِلْم، وَأَكْرِمْنِي بِالتَّقْوَى، وَجَمِّلْنِي بِالْعَافِيَةِ

“Ya Allah, anugerahi aku ilmu, hiasi aku dengan kesopanan & kesantunan, muliakan aku dengan ketaqwaan, dan percantik diriku dengan kesihatan, baik jasmani maupun rohani.”

Ingatkah saudara kepada do’a di atas yang seringkali dibaca sewaktu menatap cermin di pagi sebelum turun ke kelas atau pejabat ? Itulah sebahagian daripada sunnah Nabi SAW., mengajak kita untuk senantiasa tampak segak dan santun.

Sesungguhya Islam adalah agama yang sempurna, memerhatikan aspek-aspek kehidupan secara menyeluruh agar ia mendatangkan kebaikan kepada setiap pengikutnya. Sudah menjadi fitrah yang manusia cenderung kepada keindahan, kehenseman dan kecantikan, dan jika ditinggalkan bererti adanya sesuatu yang tidak normal baik di sisi manusiawi atau kesalahfahaman terhadap Islam itu sendiri.

Penampilan yang elok, selagi syar’i adalah tuntutan kehidupan. Baik dalam bidang pekerjaan mahupun dakwah, penampilan memainkan peranan penting dalam penonjolan imej, penerimaan orang (tsiqah), keselamatan kerja, dan keselamatan daripada siksa api neraka.

Dalam soal kecantikan atau keelokan, Ibnul Qayyim al-Jauziyah berkata,

“Kecantikan itu ada yang disukai oleh Allah dan ada yang dibenci. Sesungguhnya Allah membenci mempercantik diri (lelaki) dengan mengenakan sutera dan emas, membenci berhias dengan pakaian kesombongan.[i]

Tatkala para sahabat Rasulullah SAW. Berbicara tentang takabbur (sombong), mereka berkata, “

Wahai Rasulullah, sesungguhnya seorang lelakai senang kalau sandal dan bajunya bagus.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ اْلجَمَالَ

“Sesungguhnya Allah Maha Indah serta menyukai keindahan.” (HR. Muslim)

Untuk membezakan antara kesombongan yang dibenci Allah, bahwasanya kesombongan itu bukanlah keindahan. Dan Rasulullah menjelaskan keindahan yang disukai Allah, Rasulullah mengatakan: “Tidak akan masuk Surga siapa saja yang ada di dalam hatinya sebesar biji dzarrah kesombongan.”

Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, seseorang ingin agar bajunya bagus dan sandalnya juga bagus,apakah itu termasuk kesombongan?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

Tidak, sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan menghinakan orang lain.”

 

Perbaikilah Penampilan Wahai Para Da’ie

Rasulullah SAW. bersabda,“Kalian akan mendatangi saudara-saudara kalian. Kerana itu perbaikilah kendaraan kalian, dan pakailah pakaian yang bagus sehingga kalian menjadi seperti tahi lalat di tengah-tengah umat manusia. Sesungguhnya Allah tidak menyukai sesuatu yang buruk.” (HR. Abu Dawud dan Hakim)

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang Telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat” Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang Mengetahui.”

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf: 31-32)

Allah SWT. mencintai seorang hamba yang memperindah/menghiasi ucapannya dengan kejujuran, hatinya dengan keikhlasan, kecintaan, selalu kembali dan bertawakkal (kepada-Nya), dan anggota badannya dengan ketaatan (kepada-Nya), serta tubuhnya dengan memperlihatkan nikmat yang dianugerahkan-Nya kepadanya,

  1. dalam berpakaian (mengikut keperluan)
  2. membersihkan tubuh dari najis dan kotoran, mandi menghilangkan bau dan kotoran[ii]
  3. memotong kuku[iii]
  4. merapikan rambut, misai dan janggut
  5. memberus gigi[iv]
  6. memakai wangian[v]
  7. dan sebagainya

Maka hamba yang dicintai-Nya adalah hamba yang mengenal-Nya dengan sifat maha indah-Nya kemudian beribadah kepada-Nya dengan keindahan yang ada pada agama dan syariat-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن الله يحب أن يرى أثر نعمته على عبده

Sesungguhnya Allah suka melihat (tampaknya) bekas nikmat (yang dilimpahkan-Nya) kepada hamba-Nya” (HR at-Tirmidzi dan al-Hakim)

Suatu ketika pada zaman Khulafa’ ar-Rasyidin Umar al-Khattab ra., ada sesetengah golongan yang sengaja berjalan bongkok untuk menunjukkan sikap wara’. Hal ini terang-terang dibantah Saidina Umar al-Khattab kerana ia bertentangan dengan rasa ‘izzah terhadap Islam dan sikap sebenar wara’ itu sendiri. Kita adalah ruhban fil lail, wa fursan fin nahar.

 

Rasulullah SAW. Qudwah dalam Penampilan

Sesungguhnya Allah itu indah dan senang dengan keindahan. Bila seseorang iantara kamu (bermaksud) menemui kawan-kawannya hendaklah dia merapikan dirinya.” (HR. Muslim) 

Apabila kamu memelihara rambut, hendaklah dimuliakan (disisir, dirapikan agar tidak teracak-acak)” (HR. Abu Dawud dan Ath Thahawi) 

Jangan meremehkan sedikitpun (enggan melakukan) perbuatan ma’ruf meskipun hanya menjumpai kawan dengan wajah yang ceria.” (HR. Muslim). 

Abu Hurairah ra. berkata, sesungguhnya Rasulullah SAW. tidak pernah berbicara dengan seseorang melainkan beliau menghadapkan wajahnya pada wajah teman bicaranya dan Rasulullah tidak berpaling darinya sebelum selesai berbicara. (HR Ath-Thabrani). 

Siapa yang tidak memiliki keramahtamahan berarti ia tidak memiliki kebaikan. (HR Muslim)

Seseorang (baru benar-benar dikatakan) muslim adalah (manakala) muslim lainnya selamat daripada gangguan lidah dan tangannya. (HR Bukhari dan Muslim).

Barang siapa membanggakan diri sendiri, dan berjalan dengan angkuh, maka dia menghadap Allah sementara Allah murka kepadanya. (HR. Ahmad).

Sesungguhnya Allah itu baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan, murah hati dan suka pada kemurahan hati, dermawan dan suka pada kedermawanan … (HR Tirmidzi).

Jika salah seorang antara kalian (kaum muslimin) bertemu dengan saudaranya, maka ucapkanlah. “assalamu’alaikum warahmatullah.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Bertaqwalah kepada Allah di manapun kamu berada dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, nescaya (hal itu) akan menghapusnya. Dan bergaulah dengan manusia dengan akhlak yang luhur. (HR. Tirmidzi).




[i] Noktah-Noktah Hitam Senandung Setan, karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, penerbit Darul Haq, Jakarta

[ii] “Dari Abi Rofi’, ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam berkeliling mengunjungi beberap istrinya (untuk menunaian hajatnya), maka beliau mandi setiap keluar dari rumah istri-istrinya. Maka Abu Rofi’ bertanya, ‘Ya, Rasulullah, tidakkah mandi sekali saja?’ Maka jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ini lebih suci & lebih bersih.’” (HR. Ibnu Majah & Abu Daud)

[iii]Lima hal yang termasuk fitrah (kesucian): mencukur bulu kemaluan, khitan, menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak & memotong kuku.” (HR. Bukhari & Muslim)

[iv]Seandainya tak memberatkan umatku, nescaya aku akan memerintahkan kepada mereka utk bersiwak setiap kali akan shalat.” (HR. Bukhari & Muslim)

[v] Anas bin Malik ra. menceritakan,“Tidak pernah aku mencium bau wangi atau bau semerbak yang lebih wangi dari bau dan semerbak Nabi SAW.” (HR. Bukhari)