Yusuf Qardhawi – Menghafaz Al-Quran (04 Kewajipan-kewajipan Intelektual dan Keimanan bagi Penghafaz Al Quran)

Al Qurthubi berkata dalam “Bab tentang Apa yang Seharusnya Dilakukan oleh Penghafaz Al Quran bagi Dirinya, dan Tidak Melalaikannya”.

Yang pertama adalah: Agar ikhlas dalam menuntut ilmu seperti telah kami katakan sebelumnya, dan agar membaca Al Quran pada malam dan siang hari, dalam shalat dan di luarnya, hingga ia tidak melupakannya.

Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Orang   yang  hafaz   Al   Quran   adalah  seperti   pemilik  unta   yang  diikat,  jika  ia memperhatikan dan menjaganya maka ia dapat terus memegangnya, dan jika ia biarkan maka ia segera pergi, dan jika seorang penghafaz Al Quran membacanya pada malam dan  siang  hari,  maka  ia  dapat  terus  mengingatnya,  dan  jika  tidak  maka  ia  segera melupakannya”.

Dan  ia  harus  memuji  Allah  SWT,  mensyukuri  nikmat-nikmat-Nya,  berdzikir kepada-Nya,  bertawakkal  kepada-Nya,  meminta  tolong kepada-Nya,  bertujuan  untuk-Nya, meminta penjagaan kepada-Nya dan mengingat kematian serta mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian itu.

Ia harus mengkhawatirkan dosanya,  meminta ampunan kepada Rabb-nya,  dan hendaknya  perasaan takut dalam keadaan sehat lebih ia rasakan, kerana ia tidak tahu kapan  akan  menemui  ajalnya,  dan  harapan  kepada  Rabb-nya  saat  ia  menemui  ajal hendaknya  lebih  kuat  dalam  dirinya,  dan  berperasangka  baik  kepada  Allah  SWT. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak mati seseorang dari kalian, kecuali ia berperasangka baik kepada Allah SWT” 1.

Maksudnya,  prasangka  bahwa  Dia  akan  mengasihinya  serta  memberikan  ampunan kepadanya.

Hendaknya    ia    mengetahui     penguasa     pada    masanya,    menjaga     diri     dari kekuasaannya,  berusaha  untuk  menjauhkan  dirinya  dari  penguasa  itu,  dan  menjaga kelurusan  hidupnya, serta menjauhkan dirinya sedapat mungkin dari godaan dunianya, dan ia berusaha keras dalam hal itu sekuat tenaga.

Dan hendaknya perkaranya yang paling penting adalah wara` dalam agamanya, bertaqwa kepada Allah SWT, dan memperhatikan perintah dan larangan Allah SWT.

Ibnu Mas`ud berkata: Pembaca Al Quran hendaknya mengetahui malamnya saat manusia  tidur,  dan  siangnya  saat  manusia  bangun,  dengan  tangisnya  saat  manusia tertawa,  dengan  diamnya  saat  manusia  ribut,  dengan  kekhusyu`annya  saat  manusia gelisah, serta dengan kesedihannya saat manusa gembira ria.

Abdullah bin Amru berkata: Tidak seharusnya seorang penghafaz Al Quran ikut larut bersama orang lain saat mereka tenggelam dalam dunia, tidak turut bodoh bersama orang bodoh, namun ia memberi maaf bagi orang lain, dan menampilkan dirinya dengan lembut dan berwibawa.

Ia harus bertawadhu` terhadap para fakir miskin, menjauhkan takabbur dan memuji diri  sendiri,   menjauhi  dunia  dan  anak-anak  dunia  jika  ia  takut  terhadap  fitnah, meninggalkan pertengkaran dan perdebatan, serta bersikap lembut dan berakhlak mulia.

Ia   harus   menjadi   orang   yang   tidak   menimbulkan   kejahatan,   kebaikannya diharapkan,   tidak  membuat  kerusakan,  tidak  memperdulikan  orang  yang  mengadu dombanya, bersahabat  dengan orang  yang  membantunya  dalam  melakukan  kebaikan, yang menunjukkannya kepada  kejujuran dan akhlak yang mulia, serta yang menghiasi dirinya bukan mengotorinya.

Hendaknya  ia mempelajari hukum-hukum Al Quran dan meminta pemahaman dari Allah SWT akan keinginan-Nya dan kewajiban yang harus ia jalankan, sehingga ia dapat mengambil  manfaat dari apa yang ia baca, mengerjakan apa yang baca, kerana bagaimana  mungkin  ia  mengamalkan  sesuatu  yang  ia  tidak  pahami?  Dan  alangkah buruknya orang yang ditanyakan  tentang apa yang ia baca namun ia tidak tahu. Jika demikian maka ia seperti kuda yang membawa kitab-kitab besar (namun tidak memahami sedikitpun isi kitab-kitab itu)!

Ia  harus  mengetahui  bagian  Al  Quran  Makiah  dan  Madaniah,  sehingga  ia mengetahui  mana  yang  ditujukan  kepada  manusia  pada  awal  Islam,  dan  mana  yang diturunkan pada akhir masa kenabian, apa yang diwajibkan oleh Allah SWT pada awal Islam, dan apa yang ditambah kemudian dari kewajiban-kewajiban itu pada masa akhir kenabian. Bagian Madaniah adalah pengganti bagian Makiah, dan bagian Makiah tidak mungkin menjadi pengganti bagian Madaniah. Kerana yang terhapus (tergantikan) dari ayat-ayat itu adalah apa yang diturunkan sebelum ayat pengganti (nasikh).

Al Qurthubi berkata: Jika point-point tadi telah dikuasai oleh penghafaz Al Quran, maka ia menjadi oryang ahli Al Quran, dan ia menjadi orang yang dekat Allah SWT. Ia tidak dapat  mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang  kami sebutkan  sebelumnya hingga ia mengikhlaskan niatnya kepada Allah SWT semata, baik saat ia menuntut ilmu maupun setelahnya. Seorang penuntut ilmu dapat saja memulia pencariannya itu dengan tujuan untuk kebanggaan dan kemuliaan dunia, hingga akhirnya ia mengetahui kesalahan niatnya itu, maka ia bertaubat dari hal itu dan mengikhlaskan niatnya kepada Allah SWT, dan iapun dapat mengambil manfaat darinya dan memperbaiki  perilakunya. Al Hasan berkata: kami sebelumnya menuntut ilmu kerana dunia, namun kemudian kami tarik diri kami ke akhirat. Sufyan Tsauri juga berkata seperti itu. sementara Habib bin Abi Tsabit berkata: Kami menuntut ilmu tidak disertai niat, kemudian datang niat itu setelahnya 2.

Mengajarkan Al Quran

Bukhari  meriwayatkan  dalam  kitab  sahihnya  dari  Utsman  r.a.  bahwa  Nabi Muhammad Saw bersabda:

“Sepaling baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya”.

Al Quran adalah objek yang paling utama untuk dipelajari dan diajarkan.

Zarkasyi  berkata  dalam  kitabnya  “Al  Burhan”:  “Para  ulama  sahabat  kami mengatakan: mengajarkan Al Quran adalah fardhu kifayah, demikian juga menghafaznya, adalah wajib bagi umat Islam. Makna kewajiban itu –seperti dikatakan oleh Al Juwaini— adalah  agar  jumlah  mata   rantai  berita  mutawatir  tidak  terputus,  dan  tidak  terjadi penggantian  dan  perubahan  terhadap   Al  Quran.  Jika  sebagian  orang  mengerjakan kewajiban itu, maka kewajiban itu terbebas bagi yang  lainnya. Jika tidak, maka semua umat Islam mendapatkan dosa. Jika dalam suatu negeri atau  kampung tidak ada yang membaca  Al  Quran,  maka  semua  penduduk  negeri  itu  mendapatkan  dosa.  Jika  ada sekelompok  orang  yang  dapat  mengajarkan  Al  Quran,  kemudian  ia  diminta  untuk mengajar, namun  ia menolak, ia tidak berdosa menurut  pendapat  yang  paling  sahih. Seperti dikatakan oleh An Nawawi dalam kitab At Tibyan. Bentuk masalah ini adalah: jika  sesuatu  maslahat  tidak  hilang  dengan  penundaan  itu  maka  ia  dapat  menolak.

Sementara jika hilang, maka ia tidak boleh menolak permintaan itu 3.

Namun,  apa  yang  yang  dimaksud  dengan  mempelajari  dan  mengajarkan  Al Quran?

Yang dimaksud adalah: Menghafaz kata-kata dan huruf-huruf Al Quran dalam hati. Ini adalah tugas yang dilakukan oleh katatib (pondok-pondok penghafaz Al Quran) pada masa lalu, dan sebagiannya masih ada hingga saat ini, sementara saat ini tugas itu dilakukan oleh sekolah tahfizh Al Quran.

Itu  dapat  masuk  dalam  pengertian  belajar  dan  mengajarkan  Al  Quran.  Ada sebagian  orang  yang  berpendapat  bahwa  inilah  yang  dimaksud  itu,  bukan  lainnya. Barangkali   inilah   rahasia   mengapa   orang   amat   memberikan   perhatian   terhadap penghafazan Al Quran,  memuliakan para penghafaznya, dan menyiapkan hadiah serta pemberian uang yang banyak bagi  para penghafaz Al Quran. Sehingga ada sebagian penghafaz Al Quran yang mendapatkan hadiah dalam musabaqah yang diselenggarakan di Qathar sebesar lima puluh ribu rial, di tambah mobil yang lebih mahal dari jumlah itu. dan pada tahun kedua ia mendapatkan hadiah yang hampir sama dengan itu!

Kecenderungan  seperti  inilah  yang  mendorong  kami  untuk  mengkritik  dalam buku-ku  “Fi Fiqh al Awlawiyaat”, yaitu ketika saat ini tindakan menghafaz Al Quran lebih dilihat penting  dibandingkan dengan usaha untuk memahaminya. Para penghafaz lebih dihormati dan lebih diperhatikan dibandingkan para faqih (ahli agama).

Al Quran mendefinisikan tugas Nabi Saw adalah: “mengajarkan Al Quran dan Hikmah”,  dalam  empat  ayat  Al  Quran 4.  Dan  tentunya  yang  dimaksudkan  dengan “mengajarkan” ini  bukan  “mengajarkan menghafaz”, dengan dalil perintah itu diiringi dengan tugas membacakan ayat-ayat Al Quran kepada mereka:

“Yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah.” (Ali Imran: 164). Maka mengajar lebih khusus dari membaca.

Belajar  dan  mengajar  inilah  yang  diungkapkan  oleh  sebagian  hadits  sebagai “tadaarus”.

Dalam sahih Muslim dari Abi Hurairah r.a. bahwa Nabi Saw bersabda:

“Setiap sekelompok orang berkumpul di suatu rumah Allah, membaca kitab Allah, dan mentadaruskan Al Quran di antara mereka, maka ketenangan akan diturunkan kepada mereka, dan  mereka akan dipenuhi oleh rahmat Allah, dikelilingi para Malaikat,   dan Allah SWT akan mengingat dan menyebut mereka yang hadir di majlis itu”  5.

Makna tadarus Al Quran adalah: berusaha untuk mengetahui lafazh-lafazh dan redaksinya,  pemahaman dan maknanya, serta ibrah yang dikandungnya, serta hukum- hukum dan etika yang diajarkannya.

“At Tadarus” adalah wazan tafa`ul dari ad dars, maknanya adalah: salah satu pihak  atau   beberapa  pihak  mengajukan  pertanyaan,  dan  pihak  lainnya  menjawab pertanyaan  itu,  pihak  ketiga  mengkaji  lebih  lanjut,  dan  pihak  selanjunya  berusaha mengoreksi atau melengkapinya. Inilah yang dimaksud dengan tadarus.

Tadarus inilah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw bersama utusan wahyu

Jibril a.s. pada bulan Ramadhan setiap tahun. Seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abbas s.a., saat Jibril turun kepada Rasulullah SAW, dan mentadaruskan Al Quran bersama beliau 6.

Mudarasah (pengkajian) Al Quran yang paling baik adalah yang dilakukan oleh dua pihak utusan Allah SWT yang mulia: utusan Allah SWT dari langit, dan utusan Allah SWT di bumi!.

Dalam  mempelajari  Al  Quran  tidak  cukup  hanya  dengan  menghafaz  baris- barisnya, dan mengingat ayat-ayatnya, kemudian tidak memahami maknanya, meskipun tetap mendapatkan pahala dengan sekadar mengingat dan menghafaznya, sesuai dengan niatnya. Namun  seharusnya  ia  berusaha  untuk  memahami  –semampunya—  apa yang diinginkan oleh Allah SWT darinya, sesuai kadar kemampuan daya tangkapnya:

“Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya.” (Ar Raad: 17).

Ini  ditunjukkan  oleh  hadits  yang  diriwayatkan  oleh  `Uqbah  bin  Amir  r.a.,  ia berkata:  Rasulullah SAW keluar kepada kami saat kami berada di ash shuffah 7, dan bersabda:

“Siapa yang mau pergi pada pagi hari setiap hari ke daerah Buthhan –Atau ke Aqiq— kemudian  mengambil  dua  unta  yang  gemuk  dari  sana,  tanpa  melakukan  dosa  atau membuat putus hubungan silaturahmi”?  Kami menjawab: Wahai Rasulullah Saw, kami semua mau melakukan itu. Beliau bersabda: “Bukankah jika salah seorang kalian pergi ke mesjid pada pagi hari dan mempelajari –atau membaca— dua ayat dari Kitab Allah SWT lebih baik baginya dua unta, dan tiga ayat lebih baik dari tiga unta, empat ayat lebih baik  dari  empat  unta,  dan  dari  bilangan  ayat-ayat  itu  lebih  baik  dari  sejumlah  unta dengan bilangan yang sama?!”  8.

Bath-han adalah tempat dekat Madinah. Aqiq adalah lembah Madinah. Sementara Al Kauma adalah unta besar yang gemuk.

Aku kira mempelajari dua tiga atau empat ayat di sini: tidak berarti menghafazkan huruf-hurufnya saja, namun yang dimaksud adalah mempelajari kandungan ilmu dan amalnya  sekaligus. Oleh kerana itu hadits itu mengurangi bilangannya, sehingga dapat dipahamai dan amalkan dengan lebih mudah.

Inilah cara para sahabat r.a. dalam mempelajari Al Quran. Seperti telah kami jelaskan  sebelumnya.  Dan  dengan  cara  seperti  ini, ayat  yang dipelajari oleh seorang Muslim akan menjadi cahaya dan bukti baginya pada hari kiamat. Seperti diriwayatkan oleh Abu Umambahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa yang mempelajari satu ayat dari Kitab Allah, niscaya ayat itu akan menyambutnya pada hari Kiamat sambil tertawa di hadapannya” 9.

Tentang Mengambil Upah dalam Mengajarkan Al Quran.

Para ulama  berselisih  pendapat  tentang  boleh  tidaknya  mengambil  upah  dari mengajarkan   Al  Quran.  Sebagian  ulama  berpendapat:  boleh  mengambil  upah  dari mengajarkan Al Quran. Kerana dalam sahih Bukhari diriwayatkan hadits:

“Yang paling berhak untuk kalian ambil upahnya adalah mengajar Kitab Allah” 10. Dan ada yang mengatakan: jika ditentukan jumlahnya, maka tidak boleh. Pendapat ini dipilih oleh Al Halimi.

Abu Laits berkata dalam kitab “Al Bustan” 11:

Mengajar dilakukan dengan tiga bentuk: pertama dengan tujuan untuk beribadah saja,  dan  tidak  mengambil  upah.  Kedua:  mengajar  dengan  mengambil  upah.  Ketiga: mengajar tanpa syarat, dan jika ia diberikan hadiah ia menerimanya.

Yang pertama: mendapatkan pahala dari Allah SWT, kerana itu adalah amal para Nabi a.s.

Kedua: diperselisihkan. Sebagian ulama mengatakan: tidak boleh, dengan dalil sabda Rasulullah SAW:

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”  12. Sementara sebagian ulama lain berkata:

boleh.   Mereka   berkata:   yang   paling   utama   bagi   seorang   pengajar   adalah   tidak menentukan  bayaran  untuk  menghafaz  dan  mengajarkan  baca  tulis,  dan  jikapun  ia menentukan bayaran itu maka aku  harapkan agar tidak dilarang,  kerana ia membutuhkannya.

Sedangkan yang ketiga: dibolehkan oleh seluruh ulama. Kerana Nabi Saw adalah pengajar  manusia,  dan  beliau  menerima  hadiah  mereka.  Dan  dengan  dalil  tentang seseorang yang  tersengat  hewan berbisa, kemudian dibacakan  surah  Al  Fatihah  oleh sebagian sahabat, dan orang itu selanjutnya memberikan hadiah beberapa ekor kambing atas perbuatan sahabat itu, dan setelah mengetahui itu Nabi Muhammad Saw bersabda:

“Berikanlah aku bagian dari hadiah itu”  13. Selesai 14.

Dalam  hadits  lain  Rasulullah  SAW  membolehkan  pengajaran  itu  dijadikan sebagai mas kawin bagi    seorang wanita.  Yaitu  saat       Nabi   Muhammad Saw memerintahkan sahabat itu untuk mencari sesuatu yang dapat dijadikan mas kawin bagi sahabat  itu,  hingga  sebentuk  cincin  dari  besi  sekalipun.  Kemudian  Rasulullah  SAW menanyakan surah apa yang ia bisa. Ia  memberitahukan beberapa surah yang ia hafaz. Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda kepada sahabat itu:

“Pergilah, aku telah sahkan perkawinanmu dengan mas kawin mengajarkan Al Quran yang  engkau  hafaz”  15. Artinya  dengan  pengajaran  Al  Quran  yang  engkau  lakukan kepada wanita itu.

Ini semua adalah dalam masalah pengajaran Al Quran. Sedangkan membacanya tidak boleh  menarik upah, kerana hukum asal dalam membacanya adalah ibadah, dan dasar  bagi  seorang  yang   beribadah  adalah  agar  ia  beribadah  bagi  dirinya,  maka bagaimana mungkin ia kemudian mengambil upah kepada orang lain dari ibadah yang ia lakukan  kepada  Rabb-nya,  sementara  ia  mengerjakan  itu  semata  untuk  mendapatkan pahala dari Allah SWT?!

Abdurrahman bin Syibl meriwayatkan dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda:

“Bacalah Al Quran, amalkanlah isinya, jangan kalian menjauh darinya, jangan berlaku khianat padanya, jangan makan dengannya, dan jangan mencari kekayaan dengannya”  16.

Imran bin Husain meriwayatkan dari Nabi Muhammad Saw beliau bersabda: “Bacalah Al  Quran dan mintalah  kepada Allah SWT dengan  Al Quran itu, sebelum datang kelompok manusia yang membaca Al Quran, kemudian meminta kepada manusia dengan Al Quran” 53.

Sedangkan jika pembaca Al Quran diberikan sesuatu sadaqah, atau pemberian, maka tidak mengapa jika ia menerimanya, insya Allah.

Sumber – Menghafaz Al-Quran, Dr Yusuf Al-Qardhawi

 

Notes:

  1. Hadits diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Al Jannah wa Shifaatu Na`imiha (2877).
  2. Muqaddimah tafsir al Qurthuby juz 1 hal 14-19, cet. Dar al Kutub al Mishriyyah.
  3. Al Burhan juz 1/456
  4. Yaitu Surah al Baqarah: 129, 151. Surah Ali Imran: 164. Dan surah Al Jumu`ah: 2.
  5. Hadits diriwayatkan oleh Muslim dalam Adz Dzikr (2699).
  6. Hadits diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Abbas.
  7. Shuffah  adalah  sebuah  tempat  yang  berada  di  beranda  masjid,  yang  dipergunakan  sebagai  tempat berdiam para sahabat muhajirin yang fakir miskin. Di antara mereka adalah sahabat Abu Hurairah r.a. Dan dengan  kedekatan  tempat  mereka,  terutama  Abu  Hurairah,  dengan  kediaman  Rasulullah  Saw  –yang bertempat tinggal di samping masjid Nabawi—, ditambah dengan perhatian mereka yang hanya difokuskan untuk menerima dan mengakumulasi ajaran-ajaran dan sabda-sabda Rasulullah Saw, tanpa diganggu oleh aktivitas yang lain, Abu Huraiah r.a. menjadi sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi. Dan faktor yang terpenting lainnya adalah do`a Nabi Saw  yang dikhusukan bagi Abu Hurairah r.a. agar dikuatkan hafazannya. penj.
  8. Hadits diriwayatkan oleh Muslim dalam Shalat al Musafirin (803). Catatan penerjemah: Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (16767), dan Abu Daud dalam sunannya (1244).
  9. Al Haitsami berkata dalam Majma az Zawaaid (7/161): hadits ini diriwayatkan oleh Ath Thabrani, dan para perawinya tsiqaat.
  10. Dalam kitab Ath Thibb, dari hadits Ibnu Abbas.
  11. Yaitu Bustan al Arifin karya Abi Laits Nashr bin Muhammad As Samarqandi, wafat pada tahun 375 H, dalam hadits-hadits yang terdapat dalam Etika-etika menurut syari`ah, serta perilaku-perilaku yang terpuji dan sebagian hukum cabang. (Kasyfu azh Zhunnun 243).
  12. Hadits diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, dan Tirmizi dari Abdullah bin Amru, seperti terdapat dalam Sahih Jami Shagir dan tambahannya (2837).
  13. Sahih Bukhari: Kitab ath Thibb, dari hadits Ibnu Abbas.
  14. Al Burhan karya Az Zarkayi juz 1/457/458.
  15. Hadits muttafaq alaih, seperti terdapat dalam Al Lu’lu wa al Marjan (898).
  16. Hadits  diriwayatkan  oleh  Ahmad,  Thabrani,  Abu  Ya`laa  dan  Baihaqi  dalam  Asy  Sya`b,  dan  Ath Thahawi serta yang lainnya, seperti terdapat dalam Sahih Jami` Shagir dan tambahannya (1168).

Leave a Comment