Yusuf Qardhawi – Menghafaz Al-Quran (02 Keutamaan Menghafaz Al-Quran)

Banyak hadits Rasulullah SAW yang mendorong untuk menghafaz Al Quran, atau membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang individu Muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah SWT. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu`:

“Orang yang tidak mempunyai hafazan Al Quran sedikitpun adalah seperti rumah kumuh yang mauh runtuh” 1.

Dan   Rasulullah   SAW  memberikan   penghormatan  kepada   orang-orang  yang mempunyai  keahlian dalam membaca Al Quran dan menghafaznya, memberitahukan kedudukan mereka, serta mengedepankan mereka dibandingkan orang lain.

Dari Abi Hurarirah r.a. ia berkata: Rasulullah SAW mengutus satu utusan yang terdiri dari beberapa orang. Kemudian Rasulullah SAW mengecek kemampuan membaca dan hafazan  Al  Quran  mereka:  Setiap  laki-laki  dari  mereka  ditanyakan  sejauh  mana hafazan Al Quran-nya. Kemudian seseorang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah SAW : “Berapa banyak Al Quran yang telah engkau hafaz, hai pulan?” Ia menjawab: Aku telah hafaz surah ini dan surah ini,  serta surah Al Baqarah. Rasulullah SAW kembali bertanya: “Apakah engkau hafaz surah Al  Baqarah?” Ia menjawab: Betul. Rasulullah SAW bersabda: “Pergilah, dan engkau menjadi ketua  rombongan itu!”. Salah seorang dari kalangan mereka yang terhormat berkata:  Demi Allah, aku tidak mempelajari dan menghafaz surah Al Baqarah semata kerana aku takut tidak dapat  menjalankan  isinya. Mendengar komentar itu, Rasulullah SAW bersabda:

“Pelajarilah Al Quran dan bacalah, kerana perumpamaan orang yang mempelajari Al Quran  dan  membacanya,  adalah  seperti  tempat  bekal  perjalanan  yang  diisi  dengan minyak misik,   wanginya menyebar ke mana-mana. Sementara orang yang mempelajarinya kemudia ia tidur –dan dalam dirinya terdapat hafazan Al Quran— adalah seperti  tempat bekal perjalanan yang disambungkan dengan minyak misik” 2.

Jika   tadi   kedudukan   pada   saat   hidup,   maka   saat   mati-pun,   Rasulullah   SAW mendahulukan orang yang menghafaz lebih banyak dari yang lainnya dalam kuburnya, seperti terjadi dalam mengurus syuhada perang Uhud.

Rasulullah SAW mengutus kepada kabilah-kabilah para penghafaz Al Quran dari kalangan  sahabat  beliau,  untuk  mengajarkan  mereka  faridhah  Islam  dan  akhlaknya, kerana dengan hafazan mereka itu, mereka lebih mampu menjalankan tugas itu. Di antara sahabat itu adalah: Tujuh puluh orang yang syahid dalam kejadian Bi`ru Ma`unah yang terkenal dalam sejarah. Mereka telah dikhianati oleh orang-orang musyrik.

Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Penghafaz Al Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Quran akan berkata: Wahai  Tuhanku,  bebaskanlah  dia,  kemudian  orang  itu  dipakaikan  mahkota  karamah (kehormatan), Al  Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu dipakaikan  jubah  karamah.  Kemudian  Al  Quran  memohon lagi:  Wahai Tuhanku, ridhailah  dia,  maka  Allah  SWT  meridhainya.  Dan  diperintahkan  kepada  orang  itu: bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat  surga), dan Allah SWT   menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan ni`mat dan kebaikan” 3.

Balasan Allah SWT di akhirat tidak hanya bagi para penghafaz dan ahli Al Quran saja,  namun cahayanya juga menyentuh kedua orang tuanya, dan ia dapat memberikan sebagian cahaya itu kepadanya dengan berkah Al Quran.

Dari Buraidah ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa   yang   membaca   Al   Quran,   mempelajarinya   dan   mengamalkannya,   maka dipakaikan  mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: Mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: “Kerana kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran” 4.

Kedua   orang   itu   mendapatkan   kemuliaan   Tuhan,   kerana keduanya   berjasa mengarahkan anaknya untuk menghafaz dan mempelajari Al Quran semenjak kecil. Dan dalam hadits terdapat dorongan bagi para bapak dan ibu untuk mengarahkan anak-anak mereka untuk menghafaz Al Quran  semenjak kecil.

Ibnu Mas`ud berkata:

“Rumah  yang  paling  kosong  dan  lengang  adalah  rumah  yang  tidak  mengandung sedikitpun bagian dari Kitab Allah SWT ” 5.

Dan pengertian kata “ashfaruha” adalah: yang paling kosong dari kebaikan dan berkah.

Al Munziri  meriwayatkan  dalam  kitab  At  Targhib  wa  At  Tarhib  dengan  kata:

“Ashghar al buyut” dengan ghain bukan fa. Dan maknanya adalah: rumah yang paling hina kedudukannya, dan paling rendah nilainya.

Para penghafaz Al Quran dari Kalangan Sahabat.

Banyak terdapat hadits yang berbicara tentang keutamaan orang yang membaca Al Quran dan  menghafaznya. Seorang penghafaz dinamakan: Al qari, sementara kalangan penghafaz dinamakan: al  qurra. Dan kadang-kadang menghafaz diungkapkan dengan kata “al jam`u”.

Al Bukhari meriwayatkan dari Qatadah: ia berkata: Aku bertanya kepada Anas bin Malik: siapa yang menghafaz Al Quran pada masa Rasulullah Saw, ia menjawab: “Empat orang, seluruhnya dari kalangan Anshar, yaitu: Mu`adz, Ubay bin Ka`b, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid (salah satu paman Anas)”.

Dalam riwayat yang lain, dari Anas ia berkata: Saat Rasulullah SAW wafat, hanya ada empat orang yang hafaz Al Quran: Abu Darda, Mu`adz bin Jabal, Zaid bin Tsatbit dan Abu Zaid 6.

Riwayat   ini   bertentangan   dengan   riwayat   lainya   dari   dua   segi:   pertama: menggunakan redaksional hashr (pembatasan) pada empat orang. Dan kedua: menyebut Abu Dard sebagai ganti Ubay bin Ka`b!.

Beberapa imam menolak pembatasan sahabat yang hafaz hanya empat orang. Dan mereka menakwilkan: Bahwa perkataan itu seperti     itu adalah dalam batas sepengetahuannya. Kerana para penghafaz lebih banyak  dari  itu bilangannya, seperti telah  diketahui  dengan  yakin.  Al  Bukhari  meriwayatkan  dari  Abdullah  bin  Amru  ia berkata: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Pelajarilah Al Quran dari empat orang: dari Abdullah bin Mas`ud, Salim (maula Abi Huzaifah),  Mu`adz,  dan  Ubay  bin  Ka`b.”  Dua  yang  pertama  adalah  dari  kalangan muhajirin.

Hadits  yang  mengakui  keutamaan  empat  orang  dari  kalangan  Anshar  itu  tidak menafikan keberadaan yang lainnya yang hafaz Al Quran pada saat itu. Banyak sahabat yang menghafaz Al  Quran seperti hafazan empat orang itu, atau lebih bagus. Dalam riwayat yang sahih: Dalam perang Bi`ru Ma`unah yang terbunuh dalam kejadian itu dari kalangan  sahabat  adalah  mereka  yang  dikenal  dengan  Al  Qurra  (para  penghafaz  Al Quran) dan bilangan mereka adalah: tujuh puluh orang.

Al Qurthubi  memberikan  komentar  atas perkataan Anas tadi: Pada  saat  perang Yamamah (Perang melawan gerakan murtad) ada tujuh puluh qurra yang syahid, dan pada masa  Nabi Saw di Bi`ru Ma`unah sejumlah yang sama juga mendapatkan mati syahid. Anas  menyebutkan  hanya empat orang itu adalah kerana ia amat dekat dengan keempatnya, atau pada saat itu yang ia ingat adalah empat orang itu.

SementaAl Hafzih Ibnu Hajar menjelaskan, bahwa yang dimaksud oleh Anas itu adalah dari kalangan Khazraj, tidak termasuk suku Aus. Seperti diriwayatkan oleh Ibnu Jarir darinya ia berkata: Dua suku Aus dan Khazraj berbangga-bangga, Aus berkata: Di antara  kami  ada  yang  membuat  Arsy  bergetar,  yaitu  Sa`d  bin  Mu`adz,  ada  yang persaksiannya dihitung dua persaksian  laki-laki, yaitu Khuzaimah bin Tsabit, dan yang dimandikan oleh Malaikat, yaitu Hanthalah bin Abi  Amir, dan orang yang dijaga oleh sekawanan lebah, yaitu Ashim bin Abi Tsabit. Sementara suku  Khajraz berkata: dari kami ada empat orang yang menghafaz Al Quran dengan baik, tidak seperti orang lain dan ia menyebutkan namanya 7.

Al  Hafizh  as  Suyuthi  menyebutkan  wanita  yang  menghafaz  Al  Quran,  yang menurutnya tidak ada orang lain yang menyebutnya, yaitu Ummu Waraqah binti Abdillah bin Al Harits. Dan Rasulullah SAW pernah menziarahinya, dan menamakannya dengan syahidah,  Nabi  Muhammad  Saw  memerintahkannya  untuk  mengimami  keluarganya dalam shalat. Pada masa kekhalifahan Umar wanita itu terbunuh oleh hambanya. Umar berkomentar: Benarlah Rasulullah SAW, beliau pernah bersabda:

“Mari kita berangkat menziarahi  wanita syahidah“!.

Ibnu  Hajar  berkata:  yang  tampak  dari  banyak  hadits:  bahwa  Abu  Bakar  telah menghafaz  Al Quran pada masa Rasulullah SAW. Dalam hadits sahih diriwayatkan ia membangun masjid di depan rumahnya, dan membaca Al Quran di sana, dan ia ditandu saat sakit menimpanya. Ia berkata:  ini tidak diragukan lagi, kerana kesungguhan Abu Bakar untuk menerima Al Quran langsung dari Nabi Saw, ditambah keseriusan hatinya untuk  menerima  Al  Quran.  Keduanya  berada  bersama  di   Mekkah,  dan  pergaulan keduanya   amat   lengket,   sehingga   Aisyah   r.a.   berkata:   adalah   Rasulullah   SAW mendatangi  mereka  setiap  pagi  dan  petang.  Dalam  hadits  sahih  Rasulullah   SAW bersabda:

“Yang menjadi imam suatu kaum adalah orang yang paling pandai tentang Kitab Allah” 8. Dan  Rasulullah SAW mengedepankan Abu Bakar r.a. untuk menjadi imam shalat kalangan muhajirin dan Anshar. Ini menunjukkan bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling menguasai dan menghafaz Al Quran dibandingkan yang lain. As Suyuthi berkata: Pendapat ini telah dikemukakan oleh Ibnu Katsir sebelumnya 9.

Ia berkata: Ibnu Abi Daud meriwayatkan dengan sanad hasan dari Muhammad bin Ka`b al  Qurazhi ia berkata: pada masa Rasulullah SAW ada lima orang Anshar yang menghafaz Al Quran: yaitu Mu`adz bin Jabal, Ubadah bin Shamit, Ubay bin Ka`b,  Abu Darda dan Abu Ayyub al Anshari. Di sini ia menambahkan bilangan yang telah disebut oleh Anas, yaitu: Ubadah dan Abu Ayyub.

Abu Ubaid  menyebutkan  dalam  kitab  “al  Qiraat”  para  al  Qurra  dari  kalangan sahabat   Rasulullah  SAW.  Dari  kalangan  Muhajirin  adalah:  Khalifah  yang  empat, Thalhah,  Sa`d,  Ibnu   Mas`ud,  Huzaifah,  Salim,  Abu  Hurairah,  Abdullah  bin  Saib, Abadilah, Aisyah, Hafshah dan Ummu Salmah. Sedangkan dari Anshar adalah: Ubadah bin Shamit, Mu`adz yang mempunyai nama panggilan Abu Halimah, Majma` bin Jariah, Fadhalah bin Ubaid, dan Muslimmah bin Mukhallad. Ia mengatakan bahwa sebagian dari mereka telah menyempurnakan hafazannya setelah Rasulullah SAW wafat.

As Suyuthi berkata: Ibnu Abu Daud memasukkan juga: Tamim Ad Dari dan Uqbah bin  `Amir.  Ia  berkata:  Di  antara  orang  yang  menghafaz  juga  adalah:  Abu  Musa  al Asy`ari, seperti disebut oleh abu Amru ad Dani 10.

Tentunya pada masa sahabat,  jumlah penghafaz Al Quran tidak sebanyak pada masa  kita  sekarang  ini,  kerana  mereka  mempelajari  Al  Quran;  ilmu  dan  amalnya sekaligus.

Oleh kerana itu Umar berkata: Jika seseorang telah mempelajari  surah Al Baqarah dan Ali Imran maka ia telah tampak terhormat di mata kami! Artinya ia menjadi orang yang mempunyai kehormatan dan kedudukan di mata kami.

Saat Umar  mengkhatamkan  surah  Al  Baqarah,  ia  menyembelih  unta  sebagai

ucapan syukur kepada Allah SWT atas nikmat itu. Dan kami sendiri, saat masih kecil, jika telah menghatamkan surah Al Baqarah kami membuat acara, dan kami namakan itu sebagai: Al Khatmaah ash Shughra (khataman kecil). Sedangkan Al Khatmah al Kubra (khataman besar) adalah dengan menyempurnakan menghafaz Al Quran seluruhnya.

Ini tidak aneh, kerana Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah SAW:

“Jangan  jadikan  rumah-rumah  kalian  menjadi  kuburan,  kerana  rumah  yang  tidak dibacakan surah Al Baqarah di dalamnya, tidak dimasuki oleh syaitan “ 11.

Dari Abi Umamah al Bahili: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Bacalah surah  Al Baqarah, kerana membacanya membawa berkah,  dan meninggalkannya adalah kerugian, dan orang yang membacanya tidak dapat disihir (teluh atau santet)” 12. Artinya: para penyihir, tidak dapat mencapai sasarannya.

Ibnu  Mas`ud  berkata:  “Al  Quran  ini  adalah  hidangan  Allah  SWT,  maka barangsiapa yang dapat  mempelajari sesuatu dari   Al Quran  hendaknya  ia mempelajarinya. Karena rumah yang paling kosong dari kebaikan adalah rumah yang di dalamnya tidak ada sedikitpun kitab Allah SWT. Rumah yang tidak ada sesuatupun di dalamnya  dari kitab Allah, adalah seperti rumah kosong yang tidak berpenghuni. Dan syaitan akan keluar dari rumah yang di dalamnya dibaca surah Al Baqarah 13.

Ibnu Masu`d berkata pula: “  Segala sesuatu mempunyai puncak, dan puncak Al Quran adalah: Surah al Baqarah” 14

Sumber – Menghafaz Al-Quran, Dr Yusuf Al-Qardhawi

Notes:

  1. Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dari Ibnu Abbas (2914), ia berkata: hadits ini hasan sahih.
  2. Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadits hasan (2879), dan lafazh itu darinya. Serta oleh Ibnu Majah secara ringkas (217), Ibnu Khuzaimah (1509), Ibnu Hibban dalam sahihnya (Al Ihsaan 2126), dan dalam sanadnya ada `Atha, Maula Abi Ahmad, yang tidak dinilai terpercaya kecuali oleh Ibnu Hibban.
  3. Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadits hasan (2916), Ibnu Khuzaimah, al hakim, ia menilainya hadits sahih, serta disetujui oleh Adz Dzahabi (1/553).
  4. Hadits diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia menilanya sahih berdasarkan syarat Muslim (1/568),  dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (21872) dan Ad Darimi dalam Sunannya (3257), penj.
  5. Diriwayatkan  oleh  Al  Hakim  dari  Ibnu  Mas`ud  secara  Mauquf.  Ia berkata:  sebagian  mereka memarfu`kannya, demikian juga dikatakan oleh Adz Dzahabi (1/566).
  6. Para berselisih pendapat tentang siapa namanya. Ibnu Hajar berkata: Aku kemudian mendapatkan pada Ibnu Abi Daud yang menghilangkan kesulitan ini, kerana ia meriwayatkannya dengan sanad sesuai syarat Bukhari kepada Tsumamah dari Anas: Bahwa Abu Zaiad yang mengumpulkan Al Quran itu,  namanya adalah: Qias bin As Sakan. Ia berkata: Ia adalah seorang lelaki dari kami, dari Bani Adi bin an Najjar, salah seorang anak pamanku, dan ia meninggalkan tanpa mempunyai keturunan, kemudian kami mewariskannya. Selesai. Ia adalah salah  seorang anggota Bai`at Aqabah dan pahlawan perang  Badar. Lihat:  Al Itqaan (2/203).
  7. Lihat kitab Al Itqaan karya as Suyuthi juz 1/199-201, tahqiq Muhammad Abu al Fadhl Ibraahim.
  8. Hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim serta para pemilik Sunan dari Abi Mas`ud. Sahih Jami Ash Shagir (8011).
  9. Al Itqaan (1/201).
  10. Ibid (1/202-203).
  11. Hadits  diriwayatkan dengan lafazh ini oleh At Tirmizi dalam Tsawab al Baqarah (2780). Ia  berkata: hadits ini hasan sahih. Dan Muslim meriwayatkan dengan lafazh:

    إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةَ الْبَقَرَةِ

    “Syaitan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surah Al Baqarah  “.  Hadits (780).

  12. Hadits diriwayatkan oleh Muslim dalam Shalat al Musafirin, bab Fadhlu al Quran wa Surah al Baqarah, dengan nomor 804.
  13. Al Haitsami berkata dalam kitab Majma` Az Zawaid: Hadits diriwayatkan oleh Ath Thabrani dengan beberapa sanad, dan para periwayat jalan ini adalah sahih (7/164). Catatan penerjemah:  Hadits ini juga diriwayatkan  oleh  Muslim  dari  Abi  Umamah  Al  Bahili  (1337),      Ahmad  dalam  Musnadnya  dengan beberapa sanad, dan ad Darimi  (3257).
  14. Hadits diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Fadhail al Quran, dan ia menilai sahih isnadnya (1/561), serta disetujui oleh Adz Dzahabi. Ia meriwayatkannya secara marfu. Catatan penerjemah:  sementara At Tirmizi dalam Fhadhail al Quran dari Abi Hurairah (2803), Ahmad  dalam  Musnadnya dari  Abi Ma`qil bin Yasar (19415) dan Darimi dalam sunannya dari  Abdullah (3243), meriwayatkannya secara muttashil.

Leave a Comment