Yusuf Qardhawi – Menghafaz Al-Quran (01 Muqaddimah)

Di antara karakteristik Al Quran adalah: Ia merupakan Kitab Suci yang dimudahkan untuk dihafaz dan diulang-ulang, dan ia juga dimudahkan untuk diingat dan fahami.

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?.” (Al Qamar:17), dan ayat lainnya.

Kerana dalam  lafazh-lafazh  Al  Quran,  redaksi-redaksinya,  dan  ayat-ayatnya mengandung keindahan, kenikmatan dan kemudahan, sehingga mudah unuk dihafaz bagi orang yang ingin  menghafaznya, menyimpan dalam hatinya, dan menjadikan hatinya sebagai tempat Al Quran.

Dari  sini,  kita  mendapati  ribuan bahkan  puluhan  ribu  kaum  Muslimin  yang menghafaz  Al  Quran,  dan  majoriti daripada  mereka  adalah  anak-anak  yang  belum menginjak usia baligh. Dalam usia yang masih kanak-anak itu, mereka  tidak mengetahui nilai kitab suci, juga apakah ia suci atau tidak, namun tetap saja Al Quran dihafaz oleh bilangan orang yang banyak itu.

Jika Anda meneliti perhatian orang-orang Kristen terhadap Kitab Suci mereka,  kita akan  mendapatkan  tidak  seorangpun  yang  hafaz  isinya, tidak  setengahnya, atau seperempatnya, dari kalangan orang-orang yang beriman dengan kitab itu, hingga para rahib, pendeta, uskup dan kardinal sekalipun tidak hafaz kitab suci mereka.

Sementara dengan Al Quran, kita mendapatkan banyak non-Arab yang hafazannya amat bagus: seperti saudara-saudara kita dari India, Pakistan, Bangladesh, Afghanistan, Turki, Senegal dan Muslim Asia-Afrika lainnya, padahal mereka tidak memahami bahasa Arab. Kami pernah menguji mereka dalam musabaqah-musabaqah menghafaz Al Quran di negeri Qathar, dan aku dapati  salah seorang mereka ada yang menghafaz demikian bagusnya sehingga seperti sebuah kaset  rekaman Al Quran, yang tidak melupakan satu huruf-pun dari Al Quran, atau satu kata darinya,  namun demikian, saat kami tanya dia (dengan bahasa Arab):  Siapa nama Anda?  Ia tidak dapat  menjawab! Kerana ia tidak memahami bahasa Arab.

Ini semua adalah perwujudan dari firman Allah SWT:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar- benar memeliharanya.” (Al Hijr: 9).

Allah SWT telah menjamin pemeliharaan Al Quran ini dengan ungkapan yang tegas itu 1, dan    diantara    perangkat    untuk    memeliharanya    adalah:    Menyiapkan    orang    yang menghafaznya, dari satu generasi ke generasi lainnya.

Kami  telah  menghafaz  Al  Quran  dengan  baik  saat  belum  lagi  menginjak  usia sepuluh tahun, dan mungkin kami dapat menghafaznya pada usia yang lebih muda lagi.

Kami dapati di Bangladesh seorang anak-anak yang telah hafaz Al Quran saat ia berusia  sembilan tahun. Saat kami mencuba hafazannya, kami dapati hafazannya amat bagus.

Kami mendapati di Mesir anak yang telah hafaz Al Quran saat ia berusia tujuh tahun,  seperti  kami saksikan dalam musabaqah tahfizh Al Quran. Dan salah seorang 2 darinya   datang  ke  Qathar,  dan  kemudian  diterima  dengan  hormat  oleh  menteri Pendidikan   Qathar beberapa tahun yang lalu. Dan kami melihat seorang anak pada usia yang  sama  telah  menghafaz  Al  Quran  dan  membacanya  dengan  baik,  dari  sebuah kampung dekat kampung asalku di Mesir, yaitu Sajin al Kaum 3.

Kami    temukan    sebagian    pendidik    kontemporer    yang    mengkritik     kegiatan menghafaz Al Quran pada saat kanak-kanak, karena ia menghafaznya tanpa pemahaman, dan manusia tidak seharusnya menghafaz apa yang tidak ia fahami.

Namun kaidah ini tidak boleh diaplikasikan bagi Al Quran, karena tidak mengapa seorang anak menghafaz Al-Quran    pada    masa    kanak-kanak    untuk    kemudian memahaminya  pada  saat  dewasa.  Kerana menghafaz  pada  saat  kanak-kanak  seperti memahat di atas batu, seperti dikatakan seoarang bijaksana pada masa lalu. Dan saat ada yang  mengatakan:  Orang  yang  dewasa  lebih  matang  akalnya!  Ada  yang  menjawab: Namun ia lebih banyak kesibukannya!

Kami telah menghafaz Al Quran dan menyimpannya dalam hati semenjak masa kanak-kanak itu, kemudian Allah SWT memberikan manfaat kepada kami saat dewasa.

Di antara keistimewaan Al Quran adalah: Ia merupakan kitab yang dijelaskan dan dimudahkan     untuk dihafaz, seperti kami telah     jelaskan    dalam     karakteristik- karakteristiknya. Oleh kerana ia dipahami –secara  global—oleh yang kecil  dan yang besar,   yang   tidak   berpendidikan   maupun   yang   berpendidikan,   dan   setiap   orang mengambil pemahaman darinya sesuai dengan kemampuannya.

Kami perlu sebut di sini –saat kami belajar di al Kuttab (madrasah penghafaz Al-Quran)— kami pernah membaca kisah-kisah Al Quran dan nasihat-nasihatnya, dan kami mengetahui  ibrah umum dari kisah-kisah itu, meskipun kami tidak mencapai makna- makna yang dalam yang  terkandung dalam redaksi Al Quran, hukum-hukumnya dan semacamnya.

Kejadian  yang lain adalah saat kami mengulang hafazan  surah Ash Shaaffaat kepada syeikh Kuttab kami yaitu Syaikh Hamid. Dalam surah itu terdapat banyak kisah para Rasul, dan di antaranya adalah kisah Nabi Luth a.s. dan kaumnya yang dihancurkan oleh  Allah  SWT  dan  dibinasakan  dengan  azab-Nya.  Tentang  mereka  Allah  SWT berfirman:

“Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika Kami selamatkan dia  dan  keluarganya  (pengikut-pengikutnya)  semua,  kecuali  seorang  perempuan  tua (isterinya  yang berada) bersama-sama orang yang tinggal. Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain. Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi, dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?.” ( Ash Shaaffaat: 133-138).

Kami membaca dua ayat yang terakhir itu seperti ini:

وَإِنَّكُمْ لَتَمُرُّونَ عَلَيْهِمْ مُصْبِحِينَ (١٣٧) وَبِاللَّيْلِ 

Dengan  menyambung  kata;

مُصْبِحِينَ وَبِاللَّيْلِ 

dan  tidak  berhenti  pada  ujung  ayat, kemudian kami membaca:   

أَفَلا تَعْقِلُونَ 

Mendengar itu, Syeikh Hamid berkomentar:

Allah yaftah `alaik! (Allah membuka pemahaman engkau!) Syeikh itu mengetahui kami telah memahami makna ayat itu: “

Kami  dapati  sebagian  saudara  kita  yang  beragama  Kristen  yang  dengan  serius berusha menghafaz Al Quran atau banyak juz dari Al Quran, dan agar anak-anaknya juga menghafaznya  pada  usia  kanak-kanak  mereka.  Seperti  diceritakan  sendiri  oleh  Dr. Nazhmi  Lukas,  seorang  sastrawan  Koptik  Mesir,  tentang  dirinya,  dalam  pembukaan bukunya yang  terkenal  “Muhammad: Risalah dan Rasul”. Ia menceritakan bagaimana bapaknya mengirimnya kepada salah seorang syaikh yang buta dan amat baik hafazannya di  kota  Suez,  kemudian  bapaknya  meminta  syeikh  itu  untuk  mengajarkan  anaknya menghafaz Al Quran, dan dasar-dasarnya. Dan iapun melaksanakannya.

Pemimpin politik Koptik Mesir yang terkenal Makram Ubeid menghafaz Al Quran dalam  jumlah  banyak,  dan  ia  dengan  lincah  mengutip  dari  Al  Quran  dalam  pidato- pidatonya, dalam  artikel-artikelnya, dalam pembelaannya di persidangan, dan kata-kata Al Quran yang ia gunakan itu  memberikan keindahan dalam ucapan-ucapannya,  dan memberika kekuatan yang tidak dapat diberikan oleh sumber lainnya selain Al Quran.

Diantara manfaat menghafaz Al Quran pada masa kanak-kanak adalah: meluruskan lidah,   membaca  huruf  dengan  tepat,  dan  mengucapkannya  sesuai  denan  makhraj hurufnya, dan tidak mengalami seperti dialami oleh orang awam dan sayangnya sebagian pendidik, yang kurang fasih  dalam membaca huruf jim, dan tidak mengeluarkan lidah saat membaca huruf tsa, dzal, zha dan  lainnya, tidak menebalkan huruf-huruf izh-har yang terkenal dalam kha, shad, dhadh, tha, zha, ghain, dan qaf,  kapan harus menebalkan huruf  raa  dan  kapan  menipiskannya,  juga  seperti   huruf  lam   dalam  kata  Allah, kaditebalkan, dan kapan ditipiskan. Dan semacamnya dari bermacam-macam hal  yang biasa kita lakukan, sehingga membuat lidah kami lembut dari semenjak kanak-kanak, akibat menghafaz Al Quran dan membacanya dengan baik, sehingga akhirnya itu menjadi tabi`at kami yang kedua.

Sumber – Menghafaz Al-Quran, Dr Yusuf Al-Qardhawi

Notes:

  1. Penegasan itu tampak dalam penggunaan jumlah ismiyyah (redaksional dengan kata benda) dan  dalam kata “inna” serta lam dalam khabar “lahaafizhuun”.
  2. Yaitu siswa Badri Abu Zaid dari dearah Asyuth.
  3. Beberapa bulan yang lalu ada seorang anak dari Iran –yang baru berumur tujuh tahun— yang menjadi fenomena dalam menghafaz Al Quran al Karim. Yaitu As Sayyid Muhammad Husain Ath  Thababai. Ia telah mengunjungi Qathar pada bulan Muharram tahun 1419 H (Mei 1998 M). Ia menampilkan hafazannya dan pemahamannya terhadap Al Quran dengan mencengangkan semua orang. Ia telah  mengunjungiku bersama  orang  tuanya  disertai  duta  besar  Iran di  Doha,     aku   kemudian    menguji  hafazan  dan pemahamannya, ternyata memang betul mengagumkan.

Leave a Comment