Menghormati Hak Anak

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Rasulullah SAW sangat menekankan agar kita mencintai anak-anak tanpa syarat, menepati janji, tidak berbohong, dan adil terhadap mereka. Bagaimana anak-anak kita mengimani Tuhannya, kelak, sangat dipengaruhi oleh cara kita memperlakukan mereka di waktu kecil.

Bagaimana sikap Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallam (SAW) terhadap anak? Secara ringkas, saat bergurau sebagai teman, saat bertutur menjadi guru, dan terhadap hak anak, Rasulullah SAW menjadi pelindung dan penjaga. Melalui tindakan dan ucapannya, Rasulullah Muhammad mengajarkan kepada kita bagaimana menghormati hak anak. Barangkali inilah yang membuat anak-anak di masa Rasulullah SAW mudah menerima kebenaran, ringan mendengarkan nasihat dan ketika dewasa tidak sibuk mendahulukan hak. Mereka bersegera melaksanakan kewajiban kerana di masa kecil mereka selalu dijaga haknya.

Marilah kita ingat peristiwa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dari Sahl bin Sa’ad RA, Rasulullah SAW pernah dihidangi minuman. Beliau meminumnya sedikit. Di sebelah kanan beliau ada seorang budak dan di sebelah kiri beliau duduk para orang tua. Beliau bertanya kepada si anak, “Apakah engkau rela jika minuman ini aku berikan kepada mereka?” Si anak menjawab, “Aku tidak rela, ya Rasul Allah, demi Allah aku tidak akan memperkenankan siapa pun merebut bahagianku darimu.” Rasulullah SAW meletakkan minuman itu ke tangan anak kecil tersebut.

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari Hadits ini? “Rasulullah SAW memelihara hak si anak dengan menghidangkan minuman terlebih dahulu kepadanya kerana ia berada di samping kanan beliau,” kata Najib Khalid Al-‘Amr menuturkan dalam Min Asaalibir Rasul SAW Fit Tarbiyah.

“Ini adalah bentuk pendidikan yang menjadikan anak seakan berada dalam barisan para orangtua dari segi perolehan hak. Ketika anak telah merasa mengambil haknya, perasaan cintanya kepada Rasulullah SAW akan bertambah dan keimanan kepada risalah beliau akan semakin kukuh,” kata Najib Khalid Al-‘Amr seraya menambahkan, “dari sinilah potensi kreativitinya akan berkembang dalam naungan dakwah beliau.”

Cara bersikap seperti ini membuat anak merasa berharga. Ia memiliki peribadi diri yang baik. Tidak menganggap dirinya buruk, tidak pula memandang orang dewasa dan lingkungan pada umumnya sebagai sumber ketakutan. Selanjutnya, anak akan memiliki konsep diri yang positif sehingga mampu mengembangkan potensinya secara optimum. Rasa percaya diri yang sangat besar, seringkali ditentukan oleh seberapa baik anak memperoleh perlakuan dari orangtua. Bukan apa yang ia miliki untuk ditunjukkan kepada orang lain.

Mencintai Tanpa Syarat

Alfie Kohn, seorang psikologi sekaligus penulis buku Unconditional Parenting, menunjukkan bahwa cinta yang tulus lebih efektif untuk mengasuh, mengarahkan, mendidik, dan mendorong anak untuk lebih bertanggungjawab. Jika Anda ingin anak-anak lebih hormat kepada Anda beserta apa yang Anda katakan, tumbuhkanlah kepercayaan mereka kepada Anda. Caranya? Cintailah mereka sepenuh hati dengan tulus. Tanpa syarat.

Selain itu, anak-anak akan memperhatikan kata-kata Anda. Jika Anda berbohong kepadanya, anak tidak akan percaya kepada setiap perkataan Anda, sekalipun itu nasihat yang paling baik. Padahal tanpa kepercayaan, bagaimana mungkin anak-anak akan tergerak untuk melakukan apa yang kita inginkan?
Di sinilah kita bisa memahami mengapa Rasulullah SAW sangat menekankan agar kita mencintai anak-anak tanpa syarat, menepati janji, tidak berbohong, dan adil terhadap mereka. Bagaimana anak-anak kita mengimani Tuhannya kelak, sangat dipengaruhi oleh cara kita memperlakukan mereka di waktu kecil.
Ingatlah ketika Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Cintailah anak-anak dan kasih-sayangilah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka, tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui, hanya kamulah yang memberi mereka rezeki,” (Riwayat Bukhari).

Selain tentang seruan untuk melimpahkan cinta dan kasih-sayang kepada anak, ada dua hal yang perlu kita renungkan dari Hadits tersebut.

Pertama, berkait dengan sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya yang mereka ketahui, hanya kamulah yang memberi mereka rezeki.” Ini mengingatkan saya pada teori psikologi agama yang menunjukkan bahwa keyakinan –bukan pengetahuan—kepada Tuhan sangat dipengaruhi oleh pengalaman anak berhubungan dengan orangtua. Mereka yang memiliki orangtua kedekut, tidak konsisten dan tidak memiliki prinsip dalam mengasuh anak, cenderung menjadi pribadi yang sulit membangunkan keyakinan sangat kuat terhadap sifat pemurah Allah Ta’ala meskipun pengetahuannya tentang hal tersebut sangat luas.Wallahu a’lam bishawab.

Kedua, menepati janji. Ini merupakan bagian dari berkata dengan perkataan yang benar (qaulan sadiida). Inilah satu dari dua kunci mendidik anak yang ditunjukkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam al-Qur’an surah An-Nisaa’ ayat 9, Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) berfirman,

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (٩)

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Bagaimana kalau kita melakukan hal-hal yang kurang baik? Jika kita benar-benar berusaha untuk selalu berkata jujur kepada anak, sementara kita tidak ingin menjadi contoh yang buruk bagi mereka, maka insya Allah kejujuran akan membimbing kita untuk menguruskannya. Ada dorongan dari dalam diri kita untuk terus memperbaiki diri agar dapat menjadi contoh yang layak bagi mereka. Kalau tidak, kita akan berhadapan dengan dua kemungkinan.

Pertama, lidah kita kelu ketika berbicara kebaikan dan kebenaran kepada anak disebabkan dua hal tersebut tidak melekat pada diri kita.

Kedua, kita berbohong kepada mereka untuk menutupi keburukan, sehingga kita justru melanggar apa yang telah diperintahkan oleh Allah Ta’ala dalam surat An-Nisaa’ ayat 9. Padahal berkata yang jujur (qaulan sadiida) merupakan kunci untuk melahirkan generasi yang kuat dan tidak mengkhawatirkan. Wallahu a’lam bishawab.

Inilah di antara hikmah berbicara dengan perkataan yang benar kepada anak. Secara keseluruhan, berbicara yang benar akan membawa kita pada kebaikan. Allah ‘Azza Jalla akan membaguskan amal-amal kita dan mengampuni dosa kita. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (٧٠)يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (٧١)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab [33]: 70-71).

Jika berkait dengan tugas kita sebagai orangtua, kesungguhan untuk berkata yang benar akan mendorong kita terus berbenah, sehingga kapasiti peribadi kita sebagai orangtua akan lebih baik dari waktu ke waktu.
Selebihnya, saya hanya ingin outlinekan tentang betapa pentingnya anak-anak memperoleh pengalaman bagaimana hak-haknya dimuliakan, dijaga dan dipenuhi oleh orangtua. Ada amanah yang harus kita pertanggung-jawabkan kelak di yaumil-qiyamah, termasuk bagaimana menghormati hak yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya bagi anak-anak kita.
Wallahu a’lam bishawab.

SUARA HIDAYATULLAH, PEBRUARI 2009

Dialih ke bahasa Malaysia – dakwah.info

Leave a Comment