Setibanya di Madînah tanpa membuang-buang waktu, Rasûlullâh saw. langsung memulai aktifitasnya yang diarahkan kepada dua tujuan:
Pertama: Menumbuhkan umat Islâm menjadi kelompok mu'min yang satu, yang dipenuhi oleh rasa persaudaraan, persamaan dan keadilan, serta diberlakukannya syari'at Islâm di tengah-tengah mereka.
Kedua: Mempersiapkan faktor-faktor kekuatan umat ini agar mampu memasukkan seluruh bangsa 'Arab ke dalam aturan Allâh yang universal, kemudian memasukkan seluruh manusia -- selain bangsa 'Arab -- ke dalam pengayoman Islâm.
Adapun langkah yang Beliau tempuh untuk merealisasikan tujuan ini ialah:
01. Menegakkan ukhuwah (persaudaraan) di antara kaum Muslimîn, yaitu mempersaudarakan antara kaum Muhâjirîn, kaum pendatang, yaitu Muslimîn Makkah dengan kaum Anshâr, yakni penduduk asli Madînah.
02. Membangun Masjid Jamî' di Madînah untuk menegakkan shalat jama'ah, dan sebagai pusat kegiatan dan pertemuan individu umat, di mana mereka dapat berkomunikasi dengan Nabi mereka dan para sahabat pendamping Beliau.
03. Mengadakan ikatan perjanjian di antara penduduk Madînah, dan menerangkan hak-hak individu dan kewajiban mereka terhadap sesama mereka sebagai umat Islâm. Kaum Yahûdi pun ikut bergabung ke dalam ikatan perjanjian ini [1], akan tetapi mereka akhirnya mengkhianati perjanjian itu di belakang hari.
Menyebarluaskan Islâm ke Sekitar Madînah :
Rasûlullâh saw. melanjutkan kegiatan da'wahnya kepada penduduk yang ada di sekitar Madînah, Beliau menyeru mereka untuk masuk Islâm dan bergabung ke dalam umat Islâm, atau mengadakan ikatan perjanjian damai dengan umat Islâm.
Sebagian dari qabilah itu ada yang menerima da'wah Beliau, ada juga yang hanya membuat perjanjian damai, tetapi ada juga yang menolak bahkan memerangi Beliau dan merintangi da'wah Islâm. Kepada mereka ini, Beliau tidak segan-segan menggunakan kekuatan pasukan untuk menghadapinya demi melancarkan jalan da'wah [2]. Untuk itu Beliau secara teratur melakukan ekspedisi militer yang langsung di bawah pimpinan Beliau dan disebut ghazwât, atau Beliau mengirim satuan-satuan khusus di bawah pimpinan salah seorang sahabat yang dalam bahasa 'Arab disebut sariyah atau sarâyâ.
[1] Ini yang disebut-sebut sebagai "Piagam Madînah".
[2] Maksudnya, Rasûlullâh saw. menggunakan kekuatan militer bukan untuk memaksa orang masuk Islâm seperti tuduhan sebagian kaum Orientalis, akan-tetapi untuk melancarkan jalan da'wah, yaitu jika da'wah dihalang-halangi.
| Next > |
|---|












RSS Feed