You are here: Home Formula Kebangkitan Hatmiyyatut Tarbiyah
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Ini Sejarah Kita

menyingkap detik-detik sejarah kita sebagai muslim

Hatmiyyatut Tarbiyah

E-mail Print PDF
Adalah Abdullah bin Rawahah RA, seorang sahabat yang ketika diangkat oleh Rasulullah SAW menduduki sebuah jabatan panglima dalam perang Mu’tah, Ia menerimanya dengan tangis dan cucuran air mata. Lalu para sahabat lainnya bertanya, “Maa yubkika ya… Abdullah…” (Apa gerangan yang membuat engkau menangis wahai Abdullah…), Iapun menjawab, “Wa maa bia hubbuddunya walaa shabaabatan bikum walaakin tadzakkartu hina dzakaranii Rasulullahu biqoulihi ta’ala: Wa in minkum illaa waariduhaa kaana alaa Rabbika Hatman Maqdhiyya” (Tidak ada pada diriku cinta dunia dan keinginan untuk dielu-elukan oleh kalian, akan tetapi aku hanya teringat ketika Rasulullah mengingatkanku dengan firman Allah SWT, “Dan tidaklah dari kalian melainkan akan mendatanginya (neraka jahanam) adalah yang demikian itu bagi Tuhanmu (ya! Muhammad) merupakan ketentuan yang telah ditetapkan”. (QS. Maryam: 71).

 

Dari ungkapan Abdullah bin Rawahah tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa beliau mentadabburi ayat al-Qur’an begitu dalam, sehingga beliau mengaitkan erat ayat tersebut dengan amanah jabatan yang baru saja di pangkuannya, apakah jabatannya kelak dapat menyelamatkannya ketika masing-masing orang mau tidak mau harus melewati “Shirathal Mustaqim”, karena menghadapi neraka Jahanam dengan melewatinya adalah “Hatman Maqdhiyya”, ketentuan yang telah ditetapkan, tidak ada jalan alternatif lain dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.

“Hatman Maqdhiyya” juga berlaku dalam kaidah Tarbiyah sebagai sebuah proses dalam proyek kebangkiatan umat dan pembangunan peradaban, oleh karenanya Tarbiyah memiliki sifat “Hatmiyyah”, sifat keniscayaan, dengan kata lain bahwa Tarbiyah suatu keniscayaan adalah sebuah keharusan, atau ketentuan yang harus dipenuhi, konsekuensi yang harus dijalankan, tidak dapat ditawar dan tidak bisa tergantikan dengan apapun. Walhasil untuk dapat istiqamah di jalan dakwah serta mencapai target dan sasarannya, hanya ada satu jalan: Tarbiyah!. Karena Tarbiyah adalah jalan yang dikehendaki oleh Allah SWT untuk diikuti ( QS. 6: 153 ), dalam rangka melahirkan kader-kader generasi Rabbani (Generasi-generasi yang tertarbiyah) yang senantiasa antusias mengajarkan Al-Qur’an dan mempelajarinya ( QS. 3: 79).

Tarbiyah suatu keniscayaan dalam prosesnya dapat dilakukan minimal dengan tiga buah pendekatan.

Pendekatan Idealis

Tarbiyah adalah jalan bagi para Dai Islam, tidak ada jalan lain, atau dengan kata lain jalan para dai adalah jalan tarbawi yang memiliki paling sedikit tiga karakter mendasar.

Pertama: Sulit tapi hasilnya paten ( Sha’bun – Tsabit )

Sulitnya sebuah proses biasanya membuahkan hasil yang berkualitas, oleh karena itu proses dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, bukanlah perkara yang mudah, bayangkan, lima tahun pertama dalam dakwahnya di Mekkah baru hanya terkumpul “Arba’una rojulan wa khomsu niswatin” (40 laki-laki dan 5 wanita), akan tetapi ke 45 orang inilah yang kemudian menjadi ujung tombak dakwah, yang tidak hanya “Qaabilun liddakwah” tetapi juga “Qaabilun litthagyir”, bahkan mereka seluruhnya menjadi “Anashiruttaghyir”, “Agen of change”, agen perubahan sosial dari masyarakat jahiliyah menuju masyarakat yang islami.

Berdakwah memang tidak mudah, karena berdakwah melalui proses Tarbiyah ibarat menanam pohon jati, yang harus senantiasa dijaga dan dipelihara sehingga akarnya tetap kuat menghujam dan tidak goyah diterpa badai dan angin kencang, oleh karena itu jalan tarbawi adalah proses menuju pembentukan pribadi yang paten, atau dengan kata lain memiliki “matanah” (imunitas) baik secara “ma’nawiyah” (moral), “fikriyah” (gagasan dan pemikiran) dan “Tanzhimiyah” (struktural).

Ka’ab bin Malik RA. Adalah salah satu contoh dari sebuah kepribadian yang paten, yang dengan kesadaran ma’nawiyah, fikriyah dan tanzhimiyahnya, Ia mengakui kelalaiannya tidak turut serta dalam perang Tabuk, dan kemudian iapun dengan ikhlas menerima ‘uqubah  (sanksi) yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Bahkan ketika datang utusan dari kerajaan Ghassan yang secara diam-diam menemuinya untuk menyampaikan sepucuk surat dari raja Ghassan  yang isinya antara lain suaka politik dan jabatan penting telah tersedia untuknya bila Ia mau eksodus, Ia malah berkata seraya merobek surat tersebut, “Ayyu Mushibatin Hadzihi” (Musibah apa lagi ini..!)

Itulah sebuah refleksi dari sikap matanah yang hanya bisa dihasilkan melalui proses tarbiyah yang tidak mudah, melalui jalan dakwah yang terkonsep secara paten, Al-Qur’an menyebutnya dengan “Al-Qoulu Al-Tsabit” (QS. 14: 27  ), yang terumuskan di atas konsep yang baik atau “Kalimat Thayyibah” bukan “kalimat khabitsah” (QS. 14:  25 - 26 ).

Kedua: Panjang tetapi terjaga keasliannya (Thawil - Ashil)

Dakwah adalah perjalanan panjang, perjalanan yang dilalui tidak hanya oleh satu generasi, bahkan untuk dapat mencapai target dan sasaran jangka panjangnya membutuhkan beberapa generasi, Ingatlah ketika Rasulullah SAW mengayunkan palu memecahkan bebatuan parit Khandaq, ada percikan api keluar dari sela-sela hantaman palu dan batu memercik ke arah timur, lalu beliau mengisyaratkan bahwa umatnya kelak akan dapat menaklukkan Romawi (Byzantium). Padahal Romawi baru dapat ditaklukkan oleh umat Islam pada masa daulah Utsmaniyah sekian abad sesudahnya, berapa generasi yang telah terlampaui dan berapa panjang perjalanan dakwah yang telah dilalui?, akan tetapi ikhwah fillah betapaun telah melewati sekian banyak generasi, “Asholah” tetap terjaga, “Hammasah” tetap terpelihara, Islam yang sampai ke Romawi adalah Islam sebagaimana yang dijalankan oleh generasi pertamanya  yaitu Rasulullah SAW dan Para sahabat RodhiAllahu ‘anhum wa rodhuu’anhu.

Kepribadian yang asholah adalah kepribadian yang telah teruji dengan panjangnya mata rantai perjalanan dakwah, keperibadian yang hammasah adalah kepribadian yang tak lekang karena ‘panas’ dan tak lapuk karena ‘hujan’, sebagai ujian dan cobaan dalam perjalanan dakwah.

Adalah  Abu Thalhah  RA, salah seorang sahabat yang Allah SWT berikan kepadanya umur yang panjang, sehingga beliau masih hidup pada masa kekhalifahan Utsman RA, beliau yang saat itu usianya sudah sepuh, ketika ada seruan jihad maritim, mengarungi lautan menuju perairan Yunani untuk menghadapi pasukan Romawi, seruan jihad berkumandang melalui lantunan ayat-ayat Al-Qur’an “Infiruu khifafan wa tsiqoolan” (berangkatlah kalian dalam keadaan ringan maupun berat), lalu anak-anaknya berkata kpadanya, “Sudahlah Ayah tak usah ikut berperang, cukuplah kami saja yang masih muda yang mewakili Ayah di medan perang”, dengan kecerdasan menafsirkan ayat tersebut dibarengi dengan pembawaan“Hikmatussuyukh Hammasatussyabab” Abu Ayyub menjawab, “Tidak bisa, ayat tersebut telah mewajibkan kepada seluruh kaum muslimin baik yang tua maupun yang muda, karena ayat tersebut menyebutkan “khifafan” (ringan) berarti ditujukan untuk ka lian yang masih muda dan “tsiqalan” ditujukan untukku yang sudah tua, maka anak-anaknya pun tak dapat membendung tekad sang ayah,  berangkatlah Abu Thalhah RA turut serta dalam peperangan tersebut dan Iapun menemui syahadahnya.

Adalah Saad bin Abi Waqqash RA, yang telah menggoreskan kesaksian perjalanan dakwah dengan kepribadian yang asholah yang tidak berubah karena perubahan situasi dan zaman, dari masa-masa yang penuh dengan kesulitan dan penderitaan hingga masa-masa yang penuh dengan kemudahan dan kesenangan, mengenang semua itu beliau berkata, “Aku adalah salah satu dari 7 orang sahabat  (dari 10 sahabat yang dijanjikan masuk surga), dahulu kami bersama Rasulullah SAW dalam sebuah ekspedisi, kami tidak memiliki makanan, sehingga kami makan daun-daunan sampai perih tenggorokan kami, akan tetapi sekarang kami yang tujuh orang ini seluruhnya menjadi gubernur di beberapa daerah, maka kami berlindung kepada Allah SWT agar tidak menjadi orang yang merasa besar di tengah-tengah manusia tetapi menjadi kecil  di sisi Allah SWT”.

Ketiga: Lambat tapi hasilnya terjamin (Bathi’ – Ma’mun)

Dakwah adalah lari estafet bukan sprint, untuk itu diperlukan kesabaran untuk mencapai target dan sasaran dengan kualitas  terjamin, lari estafet memang tampak kelihatan lambat, akan tetapi potensi dan tenaga terdistribusi secara kolektif  dan perpaduan kerjasama terarah secara baik untuk memberikan sebuah jaminan kemenangan di garis finis. Watak perjalanan dakwah yang lambat harus dilihat dari proses dan tahapannya bukan dari perangai para pelakunya, karena perangai yang lambat dalam berdakwah adalah bentuk kelalaian, yang nasab (afiliasi) nya kepada jama’ah kaliber Internasional pun tidak akan mempercepat langkah kerja dakwahnya, sebagaimana hadits Rasulullah SAW, “Man bathi’a ‘amaluhu lam yusra’ bihi nasabuhu” (Barang siapa yang lamban kerjanya, tidak bisa dipercepat dirinya dengan nasabnya).

Salah satu jaminan dari proses tarbiyah adalah melahirkan sebuah kepribadian yang integral, tidak mendua dan tidak terbelah, integritas kepribadian seorang muslim yang ditempa di jalan Tarbawi tercermin pada keteguhan akidahnya, keluhuran akhlaknya, kebersuhan hatinya, kebaikan suluknya baik secara ta’abbudi, ijtima’i maupun tanzhimi.

Keberhasilan sebuah dakwah akan tampak sejauh mana keterjaminannya bila dihadapkan oleh situasi dan kondisi yang menguji integritas kepribadiannya. Sebagaimana halnya ketika terjadi tragedi “Haditsul Ifki” yang menimpa Aisyah radhiAllahu anha, banyak orang yang tidak terjamin akhlaknya sehingga turut menyebarluaskan fitnah keji tersebut, bandingkan dengan para sahabiyah yang terjamin kualitas tarbawinya, yang menjaga lisannya, yang lebih senang mengedepankan husnudzhannya kepada ummul Mu’minin Aisyah RA, cukuplah isteri Abu Ayyub al-anshari mewakili keluarga para shabiyah yang berhati mulia, bagaimana ia menyikapi kasus tersebut dengan penuh rasa ukhuwah dan mencintai saudaranya karena Allah SWT.

Berkenaan dengan gunjingan yang menimpa aisyah RA, isteri abu Ayyub al-anshary berkata kepada suaminya, “Ya..Abaa ayyub!,  lau kunta sofwaana hal taf’alu bihurmati rasulillaahi suu’an, wa hua khairun minka, Ya…Abaa ayyub lau kuntu ‘Aisyah maa khuntu RasulAllahi abadan” (Wahai abu Ayyub, jika engkau yang menjadi Safwannya apakah engkau berbuat yang tidak-tidak kepada isteri Rasulullah SAW, dan Safwan lebih baik dari engkau. Wahai abu Ayyub, kalau aku yang jadi Aisyah, tidak akan pernah aku mengkhianati Rasulullah SAW, dan Aisyah lebih baik dariku).

Dengan kata lain istri Abu Ayyub Al-Anshari RA mengingatkan suaminya bahwa dirinya yang tidak lebih baik dari Shafwan  RA saja tidak ada pikiran-pikiran buruk terhadap Aisyah RA sebagaimana yang digunjingkan oleh banyak orang, apalagi Shafwan RA yang jauh lebih baik dari suaminya, sehingga mustahil dalam pandangan istri Abu Ayyub RA Shafwan melakukan hal-hal sebagaimana yang dituduhkan oleh banyak orang. Sebaliknya istri Abu Ayyub Al-Ansari RA juga berkata kepada dirinya sendiri, bahwa dirinya saja yang tidak merasa lebih baik dari Aisyah RA tidak pernah terlintas untuk tega mengkhianati suami apalagi Aisyah yang dalam pandangannya jelas-jelas jauh lebih baik dari dirinya, sudah barang tentu mustahil terlintas pikiran jelek mengkhianati suami (berselingkuh) seperti yang digosipkan oleh banyak orang.

Kata-kata istri abu Ayyub syarat dengan taushiah agar kita menjaga syahwatul lisan, mendahulukan husnu dzhan dan menonjolkan sikap tawaddhu sebagai bukti terjaminnya hasil dakwah.

Pendekatan taktis

Setelah ketiga faktor idealis tersebut di atas telah terealisasi dengan baik, maka langkah berikutnya adalah memetakan langkah-langkah taktis, dengan melakukan program peningkatan kualitas dan kuantitas pertumbuhan kader dan menyelenggarakan “Bi’tsatudduat”. Seperti beberapa orang sahabat yang diutus oleh Rasulullah SAW untuk mendakwahkan dan mengajarkan serta melakukan pembinaan kepada  orang-orang yang baru masuk Islam, yang telah melampaui wilayah Makkah dan Madinah, seperti Muadz bin Jabal yang diutus ke Yaman dan Khalid bin Walid yang dikirim ke wilayah Irak. Hal itu dimaksudkan untuk menyeimbangkan luasnya medan dakwah dengan jumlah kader dan menyelaraskan dukungan masa dengan potensi (kemampuan) tarbiyah.

Pendekatan Strategis

Langkah strategis dalam sebuah perjalanan dakwah yang sangat penting adalah fokus untuk menyusun barisan  kader inti, dimana hal ini tidak boleh terabaikan betapa pun gegap gempitanya sambutan masyarakat umum terhadap dakwah ini, oleh karena itu untuk menghindari terjadinya “Lose of generation”, atau generasi kader yang lowong, maka segera mendesak untuk dirumuskan sebuah strategi membina kader baru yang sekarang ini semakin kompetitif dengan gerakan-gerakan dakwah lainnya. Semakin banyak jumlah kader inti di samping kader baru baik secara kualitas maupun kuantitas akan banyak membantu dakwah ini dalam menghadapi berbagai permasalahan dan ancaman.

Pada masa abu bakar RA, terjadi gelombang pemurtadan yang luar biasa, sehingga 2/3 jazirah Arab nyaris mengalami kemurtadan, itu artinya hanya 1/3 wilayah yang selamat yang terdiri dari kota Makkah, Madinah dan Thaif, di ketiga kota inilah kader inti dakwah tetap dijaga dan dipelihara, sedangkan kader-kader baru dibina pada masa Khalifah Umar bin Khattab dimana kebanyakan mereka adalah tawanan perang Riddah pada masa Abu Bakar RA. Terbukti kemudian pada perang Qadisiyah, ketika ancaman imperium Persia menghadang, kader-kader baru yang dibina oleh Umar bin Khaatab selama kurang lebih satu tahun kebanyakan mereka berada di barisan paling depan dalam jihad fi sabilillah, dan tak jarang di antara mereka kemudian terkenal sebagai panglima dan komandan pasukan. Itulah hasil sebuah produk tarbiyah  (QS, 3: 146).

Wallahu ‘alam bisshawab

 

Add comment


Security code
Refresh

Ini Sejarah Kita

Infaq

Bahan Tarbiyyah

Rajah ISK

Adakah Kau Lupa

Dengan Kerjasama