Syuro, Keperluan, Cara Melaksanakan dan Jangkauannya Dalam Usrah

Oleh – Prof. Dr Taufiq Yusuf Al-Wa’iy

Artikel Asal – Al-Quduratu Adz-Dziniyatu wadz-Dazatiyatu lil murobbi wa Da’iyati

  

Syura’ berasal dari kalimat syara al-‘Asal, yang artinya “madu itu dibersihkan”. Syurrat Ad’Daabah maksudnya adalah engkau menarik seekor ternak untuk mengetahui atau menguji kekuatannya. Maka, Asy-Syura’ ialah menarik pendapat yang beragam dan berbeza-beza, lalu mengujinya untuk mendapatkan pemikiran yang lebih baik dan utama untuk dilaksanakan.

Secara hukum, syura’ berarti mencari kebenaran melalui kesungguhan dan kerja keras, komitmen terhadap manhaj Allah dengan tujuan meningkatkan ketakwaan.

Definisi lain tentang syura’ ialah saling tukar pendapat dan pemikiran di antara anggota atau antara kelompok pada tema tertentu untuk mendapatkan hasil yang disepakati bersama-sama atau disepakati oleh majoriti peserta, dan menjadi kewajiban semua pihak untuk melaksanakannya.

Al-Istisyarah atau meminta saran dan pendapat adalah perkara yang sifatnya ditujukan kepada peribadi dan menjadi tanggung jawab seorang pelaksana atau eksekutor di lapangan. Seorang pemimpin atau yang mempunyai kebutuhan, mengajukan pertanyaan kepada orang lain yang ia perrcayai ilmu, agama, dan ketakwaannya kepada Allah, walaupu hal itu bukan sebuah kewajiban, kerana mereka yang meminta saran dan masukan itu masih mesti mempertimbangkan segala yang ia dengar sebelum mengambil keputusan.

Al-Masyurah artinya nasihat dan disampaikan oleh seseorang secara sukarela tanpa diminta atau ditanya. Hal ini boleh dilakukan oleh seorang seorang prajurit kepada panglima perangnya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Khabbab terhadap Rasulullah saw. pada perang Badar. Boleh juga antara sesama kawan atau nasihat dan saran seorang pemimpin perang kepada prajuritnya ketika ia membebankan padanya sebuah tugas.Agar saran dan nasihat itu dapat membantunya dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.

 

Hukum Syura’

I.   Dalil Al-Qur’anul Karim

1. Firman Allah

…dan urusan mereka dijalankan secara bermesyuarat sesama mereka (Asy’Syuura’: 38)

Tentang ayat ini, Ustadz Sayyid Quthb dalam Zhilalnya berkata bahwa ungkapan ini membuat seluruh urusan mereka berada dalam syura’, di mana kehidupan mereka terbentuk dengan cetakan ini. Sebagaimana kami katakan bahwa ayat ini Makki (turun di Makkah) sebelum berdirinya negara Islam. Maka, model ini sesungguhnya lebih luas dan universal dalam kehidupan setiap muslim. Inilah ciri sebuah jamaah islamiyah dalam setiap situasi dan keadaan yang mereka alami, walaupun negara, dengan maknanya yang khusus, belum berdiri setelah diturunkannya ayat ini. Pada realitinya, negara di dalam Islam tidak lain dari sebuah klasifikasi alami bagi sebuah jamaah dan segala keistimewaannya. Jamaah mengandung makna daulah yang bangkit bersama negam untuk merealisasikan manhaj islami dan kekuasaannya terhadap segala kehidupan sebagai individu atau kelompok. Dengan demikian, model syura’ dalam jamaah muncul di awal waktu, di mana maksud dan tujuannya lebih luas dan dalam daripada batas jangkauan sebuah negara dan pemerintahan.Itulah bentukan khusus bagi kehidupan Islam dan cirinya yang istimewa terhadap jamaah yang dipilih untuk menata kehidupan manusia. Syura’ adalah kriteria khusus yang mesti melekat dalam sebuah jamaah. Adalah layak untuk disebutkan bahwa nash Al-Quran menyebutkan pilar pertama dalam Islam, dua kalimat syahahadat kerana peranannya yang sangat besar. Kemudian asas yang kedua menegakkan solat, yang diikuti dengan syura’ sebelum menyebutkan tentang zakat. (Ringkasan dari Kitab Zhilal)

2. Allah Azza wajalla. berfirman,

Maka Dengan sebab rahmat (yang melimpah-limpah) dari Allah (kepadamu Wahai Muhammad), Engkau telah bersikap lemah-lembut kepada mereka (sahabat-sahabat dan pengikutmu), dan kalaulah Engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka lari dari kelilingmu. oleh itu maafkanlah mereka (mengenai kesalahan Yang mereka lakukan terhadapmu), dan pohonkanlah ampun bagi mereka, dan juga bermesyuaratlah Dengan mereka Dalam urusan (peperangan dan hal-hal keduniaan) itu. kemudian apabila Engkau telah berazam (Sesudah bermesyuarat, untuk membuat sesuatu) maka bertawakalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang Yang bertawakal kepadaNya

(Al-Imran: 159) 

Ustadz Sayyid Quthb berkata dalam Zhilalnya, “Dengan nash yang sangat tegas ini ‘dan bermusyawaradah dengan mereka dalam urusan itu , Islam menetapkan prinsip ini dalam sebuah hukum pemerintahan, sehingga Rasulullah saw. memimpin langsung aplikasi syura’, dan Ini merupakan dalil defenitif yang menimbulkan keyakinan dalam diri kaum Muslimin bahwa syura’ merupakan prinsip mendasar, dimana aturan-aturan Islam takkan tegak kecuali bila berlandaskan pada asas ini.”

Beliau juga berkata bahwa nash ini datang setelah lahirnya hasil syura’ yang menimbulkan bencana sangat besar. Di mana kaum Muslimin berbeda pendapat ketika mereka menghadapi musuh pada perang Uhud, apakah mereka menyongsongnya di luar Kota Madinah, atau bertahan di dalamnya. Sebagian dari kelompok pasukan muslimin sangat bersemangat berperang melawan musuh di luar Kota Madinah, sementara yang lain berpendapat agar mereka bertahan di dalam kota, sehingga mereka dapat membunuh dengan mudah musuh-musuhnya di mulut-mulut gang kota Madinah. Adanya perbezaan tersebut menimbulkan kekisruhan dalam barisan mereka, apalagi ketika Abdullah bin Ubai bin Salul bersama rombongannya yang terdiri dari sepertiga jumlah pasukan muslimin keluar dari barisan. Inilah peristiwa besar yang menimbulkan kegoncangan dalam diri para prajurit, sementara musuh-musuh telah mengepung mereka. Dari peristiwa ini juga mereka mengetahui bahwa rencana pertama yang telah disepakati (bertahan di kota Madinah) ternyata bukan rencana paling baik dari sisi ketenteraan, kerana bertentangan dengan apa yang telah dilakukan oleh nenek moyang mereka dalam mempertahankan kota Madinah—sebagaimana yang dikatakan Abdullah bin Ubai. Kaum muslimin akhirnya melakukan apa yang bertentangan dengan pendapat Abdullah bin ubai dalam perang Ahzab, yakni tetap bertahan di dalam kota dan menggali parit di sekelilingnya. Walaupun demikian, sesungguhnya Rasulullah saw. bukannya tidak mengetahui bahwa akan muncul bahaya yang lebih besar jika mereka menghadapi musuh di luar kota Madinah.

Rasulullah saw. sesungguhnya menyaksikan adanya kebenaran dalam mimpinya.Ia dapat merasakan bahwa beberapa keluarga dan sahabatnya akan gugur dan kota Madinah akan dikelilingi oleh benteng yang kokoh. Adalah haknya untuk menolak kesepakatan majoriti menyongsong musuh di luar kota Madinah,walaupun itu hasil syura’. Beliau tetap menjalankan apa yang telah disepakati walaupun ia mengetahui bahwa di sebalik itu semua akan ada kepedihan, kerugian, dan pengorbanan. Namun, menjalankan prinsip, mendidik jamaah, dan ummat, jauh lebih besar daripada kerugian sementara yang dialami.

Adalah menjadi hak pengurusan kenabian untuk meletakkan seluruh prinsip-prinsip syura’—setelah terjadinya peperangan tersebut—untuk berdepan setiap peristiwa yang menyebabkan munculnya perpecahan dan kekisruhan dalam barisan kaum Muslimin dan untuk menghadapi kenyataan pahit sebagai hasil dari kesepakatan bersama setelah peperangan selesai. Tapi, seperti itulah agama yang kita anut ini, membangun, mendidik, dan mempersiapkan umat untuk menata kehidupan manusia.

Dan sesungguhnya, Allah Azza wajalla Maha tahu bahwa scbaik baiknya saranan pendidikan ummat adalah melalui pendidikan syura’. Melatih mereka membawa beban dakwah, walau mereka melakukan kesalahan besar dan menuai kenyataan pahit. Dengan kesalahan itu, mereka dapat menemukan kebenaran di dalamnya. Mereka takkan merasakan adanya kebenaran, kecuali setelah melakukan kesalahan dan mendapatkan kerugian. Semua itu tidaklah berarti apa-apa bila buah dari pengalaman dijadikan saranan untuk membangun umat yang tahu dan mampu mempertanggungjawabkan segala yang mereka lakukan. Meminimakan kesalahan dan kerugian dalam kehidupan ummat takkan bererti apa-apa apabila hal itu tidak menghasilkan manfaat bagi mereka, dan bila umat ini tetap melakukan kesalahan yang sama, serta senantiasa lalai, bagaikan anak kecil yang bergantung pada kedua orang tuanya.

Pada situasi dan keadaan seperti di atas, kerugian material tentu dapat dihindari sebagaimana ia dapat diraih. Tetapi, yang dirasakan kerugian pada sisi psikologi, eksistensi, pendidikan, dan kerugian dalam mendidik mereka bagi menghadapi realiti kehidupannya.Hal demikian ini sama seperti anak kecil yang dilarang untuk berjalan, kerana kita mesti mempersiapkan kelengkapannya, kasut,sandal dan sebagainya.

Agama Islam datang untuk membangun ummat,mendidik,dan mempersiapkannya bagi menata kehidupan manusia.Sebagaimana yang dikatakan sebelumnya. Agama ini takkan menemukan adanya peluang untuk mengarahkan dan membimbing mereka, sementara ia tidak mengawasi gerak kehidupannya agar terlatih mengikuti jalan kehidupan Rasulullah saw.

Andai saja keberadaan pemimpin yang lurus melarang adanya syura’ dan tidak membiasakan umat ini menghadapi kenyataan hidup yang sarat dengan ancaman bahaya dan bencana sebagaimana yang terjadi dalam perang Uhud. Perang yang menegaskan eksistensi perjalanan umat yang tetap tumbuh dan berkembang walau dikelilingi oleh bahaya dan ujian yang sangat berat sekalipun. Dan, andai saja keberadaan pengurusan dakwah di tengah umat cukup dan mampu mem-back up eksistensi syura’ dalam menghadapi setiap ancaman bahaya, maka kehadiran Muhammad saw,bersama dengan wahyu ilahi yang diturunkan padanya cukup untuk meniadakan syura’ di tengah Jamaah Muslimah pada saat itu. Apalagi ketika hasil yang diperoleh ternyata demikian pahit dan mengancam pertumbuhan umat serta kelangsungan dakwah ke depan.

Namun, diutusnya Muhammad saw sebagai Rasul akhir zaman yang disertai dengan wahyu-wahyu ilahi dan terjadinya peristiwa yang berbuah kesedihan, serta berbagai bahaya yang terjadi di sekelilingnya, tidak menjadi penyebab dicabutnya hak syura’, kerana sesungguhnya Allah swt. Maha Mengetahui hikmah dibalik ini semua. Syura’ mesti tetap dilakukan dalam berbagai masalah penting yang terjadi di tengah umat, walaupun hasil yang dicapai tidak sesuai dengan harapan, membawa kerugian dan bencana, menciptakan kekisruhan dalam barisan jamaah, mengmestikan adanya pengorbanan berat, dan lahirnya berbagai ancaman yang membahayakan mereka.

Semua kenyataan pahit di atas hanya masalah kecil yang takkan berdiri tegak di hadapan umat yang lurus, terlatih menghadapi segala problem kehidupannya, dan sebagai kesan logik atas pemikiran dan karya-karya yang mereka ciptakan. Itulah umat yang sedar dan bertanggung jawab atas hasil gagasan dan amal yang mereka lakukan. Dan, pada saat itulah perintah ilahi kembali terdengar, “Kerana itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarhlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali -Imran: 159)

 

II.  Amalan Rasulullah saw.

Selain dari adanya perintah syura’ setelah terjadinya perang Uhud, kita juga menemukan bahawa pada beberapa situasi dan keadaan Rasulullah saw. meminta saranan dan pendapat sahabat-sahabatnya. Beberapa contohnya dapat kita sebutkan sebagai berikut.

  1. Rasulullah saw. meminta saranan dan pendapat sahabat-sahabatnya dalam menerima tawaran tebusan tawanan perang Badar.
  2. Dalam perang Khandaq (Ahzab), Rasulullah saw. bermusyawarah dengan Sa’ad dalam proses perjanjian damai dengan suku Ghathafan dengan balasan setengah dari hasil kebun kota Madinah.
  3. Rasulullah saw. juga bermusyawarah dengan pasukannya dalam kasus pembagian ghanimah (harta rampasan perang) Hawazin setelah perang Hunain. Ketika itu, utusan dari suku Hawazin datang kepada Rasulullah saw untuk meminta  ghanimah. Beliau melontarkan masalah ini kepada para pahlawan perang untuk dimusyawarahkan. Beliau kemudian menyatakan persetujuannya yang diikuti oleh kaum Muhajirin dan Anshar. Namun hal tidak disetujui oleh al-Aqra’ bin Habis dari bani Tamim dan al- Abbas bin Mirdas dari bani Salim. Rasulullah saw. kemudian berkata kepadu utusan tersebut, “Sesungguhnya kami tidak tahu siapakah yang dapai mengabulkan permintaan kalian di antara orang-orang yang tidak menyetujuinya. Kembalilah kalian sehingga pemimpin kalian membicarakan hal ini kepada kami. Mereka pun kembali dan menyampaikan keputusan tersebut kepada pemimpin mereka. Setelah itu mereka kembali kepada Rasulullah saw dan menyampaikan padannya bahwa pemimpin mereka menyetujui keputusan itu.” (Fat’hul Baari, Syarah Shahih Al’Bukhari)
  4. Rasulullah saw. bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam menentukan cara mengajak kaum Muslimin untuk menunaikan solat. (lihat kisah awal mulanya azan dikumandangkan)
  5. Beliau juga bermusyawarah dalam masalah peperangan, kesepakatan pembagian ghanimah, perkara sosial, dan politik. Seluruh masalah ini adalah unsur-unsur mendasar bagi sebuah negara Islam.

 

III. Amalan Khulafaur Rasyidin 

Syura’ adalah ciri mendasar dan merupakan bagian dari asas penegak masyarakat muslim pada masa Khulafaur Rasyidin. Seorang daie yang berasal dari India, Amir Ali berkata, “Sesungguhnya Khalifah terdahulu meminta bantuan dalam urusan ketatancgaraan kepada majelis khusus yang terdiri dari para Syuyukh (orang tua yang kaya pengalaman) dari kalangan sahabat, pemuka dan tokoh-tokoh Kota Madinah dan pemimpin kabilah.”

Imam Bukhari berkata, “Setelah Rasulullah saw. wafat, para pemimpin meminta saranan dan nasihat kepada orang-orang yang dapat dipercaya dari kalangan ilmuwan dalam berbagai masalah yang bersifat umum, agar mereka dapat mengambil yang mudah untuk diterapkan. Apabila masalah tersebut dijelaskan secara tegas oleh Al-Qursan dan Sunnah, maka mereka tidak melampaui keduanya untuk mengambil hal yang lain.” (lihat, Al-Islam wa audha’una As-Siyasiyah. Asy-Syahid Abdul Qadir Audah)

Imam Bukhari juga menyampaikan apa yang dikatakan oleh ibnu Abbas, “Para Qurra’ (Cendikiawan) yang berada dalam majlis Umar bin Khaththab terdiri dari para orang tua yang sudah sepuh atau kalangan pemuda.” Muhammad Amir Ali ‘Azad juga berkata, “Salah satu jejak yang ditinggalkan oleh Abu Bakar ialah membentuk Majlis Syura’ sebagai tempat untuk mengajukan berbagai masalah yang tidak ada kejelasan nash tentangnya dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw.” (Lihat, Al’Mujtama’ Al’lslami wa Ushul Al’Hukmi, Muhammad Ash-Shadiq)

Beberapa Contoh Muusyawarah Khulafaur Rasyidin

  1. Abu Bakar bermusyawarah dengan para sahabat tentang warisan seorang nenek, dan ketika Mughirah bin Syu’bah mengatakan bahwa ia pernah mendengar hukum tentang hal itu dari Rasulullah saw. yang disaksikan oleh sebagian sahabat, Abu Bakar pun kemudian mengikuti Nash tersebut.
  2. Tatkala beberapa sahabat mengusulkan perlunya penentuan gaji Abu Bakar sebagai Khalifah, masalah ini pun kemudian dilontarkan kepada sahabat lainnya dan ahlul masjid yang selanjutnya menyepakati gaji beliau sebesar 3 dirham per hari.
  3. Ketika Umar bin Khaththab bertekad untuk memimpin pasukan perang kaum Muslimin menuju Persia dan mengajukan keinginan tersebut untuk dimusyawarahkan, ternyata majoriti kaum Muslimin menginginkan agar beliau tetap di Madinah dan diwakili oleh Sa’ad bin Abi Waqqash.
  4. Juga meminta saran dan masukan kepada para sahabat tentang hukuman bagi peminum khamar dan keinginannya untuk memperberat hukuman tersebut dengan 80 kali cambukan.
  5. Dalam kisah wanita dari Persia yang masih perawan lalu berzina. la kemudian memberitahukan apa yang telah ia lakukan tanpa merasa bahwa ada hukuman atas perilakunya itu. Perkara ini kemudian disampaikan Umar bin Khaththab ra. kepada para sahabat untuk dimusyawarahkan. Majoriti sahabat sepakat bahwa wanita ini mesti direjam, namun Ustman bin Affan ra. berpendapat bahwa wanita ini belum mengetahui bahwa zina adalah haram. Oleb kerana itu, tidak wajib atasnya hukuman tersebut. Pendapat ini didasarkan pada hukum syar’i yang mengatakan bahwa tidak ada hukuman bagi yang tidak mengetahui hukum, maka hukum syar’i tersebut sebagai pedoman/pengawal terhadap syura’ yang mesti diikuti.
  6. Diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz membentuk sebuah majlis syura yang terdiri dari 77 orang dari kalangan fuqaha, ulama dan hakim. Dan ia tidak memutuskan satu perkara pun selain meminta izin kepada mereka.
  7. Menghilangkan syubhat. Pada kes yang terjadi pada masa Abu Bakar ra ketika beliau bertekad untuk memerangi kaum murtad sementara majoriti sahabat tidak menyetujui hal itu. Ada yang berkata bahwa beliau menentang keputusan syura’. Tentang hal ini ada beberapa catatan sebagai berikut.

Pertama, ada nash (dalil) mengenai hal ini, dan alasan Hukum yang ia utarakan sangat kuat.

Kedua, Allah Azza wajalla melapangkan hati para sahabat dan akhirnya menerima pendapat Abu Bakar ra. Hal ini juga sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Umar ra, “Saya masih kukuh dengan pendapatku (tidak memerangi kaum murtad) sehingga Allah melapangkannya dan menumbuhkan keyakinan dalam diriku bahwa pendapat yang disampaikan oleb Abu Bakar ra. adalah benar.

 

Perlunya Syura’

  1. Mengaplikasikan salah satu sifat orang-orang beriman: “Dan mereka bermusyawarah atas urusan mereka”
  2. Komitmen atas kewajiban Islam. “Kerana itu maafkanlah mereka,mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Al-Imran: 159)
  3. Mengaplikasikan sistem Islam dan keunggulannya dalni kehidupan individu dan jamaah.
  4. Mengajar jamaah, mendidik umat dan mempersiapkan mereka untuk menata kehidupan manusia kepada jalan yang lurus, serta mampu memikul tanggung jawab.
  5. Menghindari terjadinya sifat diktator dalam proses pengambilan keputusan penting yang memiliki pengaruh signifikan dalam masyarakat.
  6. Adanya ketenangan atas semua orang bahwa mereka berada di atas jalan yang lurus. Kerana setelah pengambilan keputusan tersebut yang dilakukan secara musyawarah dan mufakat, akan meneguhkan kepercayaan terhadap pengurusan dakwah, dan menumbuhkan loyalitas terhadap jamaah.

 

Bagaimana Melaksanakan Syura’

Dalam bukunya At-Tasyri Al-Jinaai, juz pertama, Ustadz Abdul Qadir Audah—semoga Allah merahmatinya—berkata, “Syariat berfungsi lebih integral dengan menjadikan syura’ sebagai prinsip umum dan mempersembahkannya kepada para pimpinan dalam sebuah jamaah untuk mereka jadikan sebagai bagian dari asas-asas kekuatannya yang mesti direalisasikan, kerana asas-asas ini sesungguhnya akan mengalami perbezaan aplikasi mengikuti perubahan tempat, waktu, dan keadaan jamaah. Maka, para pimpinan mesti mengetahui pendapat yang berkembang di tengah masyarakat melalui ketua usrah atau wakil ketua kelompok, atau mendengar pendapat beberapa individu yang memiliki beberapa kriteria khusus yang dipilih melalui undian atau aklamasi. Para pimpinan jamaah semestinya berusaha melakukan berbagai macam cara dan kaedah yang lebih baik dan efektif untuk mengetahui pendapat jamaah, dengan syarat semua cara yang dilakukan itu tidak berbahaya dan menimbulkan mudharat terhadap keshalihan setiap individu, eksistensi jamaah, dan aturan-aturan umum yang ada di dalamnya.”

Adapun kaedah-kaedah mendasar dan khusus untuk menerapkan dan melaksanakan prinsip-prinsip syura’ jumlahnya tidak banyak, dan ini pun telah dijelaskan hukum-hukumnya oleh syariat serta tidak diserahkan secara penuh kepada para pimpinan, kerana hukum yang berlaku di dalamnya mesti sesuai dengan prinsip syura’ yang tidak dapat dimodifikasi atau diubah, kerana kaidah ini berasal dari nash-nash khusus yang tidak tidak dapat diubahsuai.

Salah satu bagian dari kaedah-kaedah mendasar yang mesti diikuti dalam penerapan prinsip syura’ ialah kalangan minoriti mesti segera merealisasikan pendapat majoriti,melaksanakannya dengan ikhlas dan menganggapnya sebagai satu kewajiban yang mesti dipatuhi, serta membelanya sebagaimana kalangan majoriti melakukan pembelaan terhadapnya.

Pada tahap ini, pihak minoriti tidak lagi memiliki ruang untuk mendebat atau mendiskusikan sesuatu yang telah didiskusikan dan menjadi keputusan syura’ atau ragu dalam mengaplikasikannya. Ini adalah salah satu Sunnah Rasulullah saw. Yang beliau contohkan bagi umatnya dan mewajibkan mereka untuk mentaatinya, sebagaimana firman Allah Azza wajalla, “Apa yang diberikam Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (Al Hasyr: 7)

Ustadz Abdul Qadir Audah ra. berpedoman pada apa yang terjadi dalam perang Uhud, yang menjadi keputusan syura’ adalah pendapat majoriti yang sepakat untuk berdepan dengan musuh di luar kota Madinah. Dalam hal ini beliau berkata, “Dan Rasulullah saw. adalah yang pertama kalinya menjadikan pendapat kalangan majoriti sebagai keputusan yang mesti segera dilaksanakan. Ketika itu, Rasulullah s.a.w segera bangkit dari tempat duduknya, masuk ke dalam rumah lalu mengenakan baju besinya. Beliau kemudian keluar untuk memimpin mereka yang (pendapatnya) minoriti dan majoriti sekaligus untuk berdepan musuh di luar Kota Madinah. Apa yang beliau lakukan sebagai bukti bahwa Rasulullah bersegera merespon dan merealisasikan pendapat majoriti walaupun bertentangan dengan pendapat lain, yang pada akhirnya menjadi bukti bahwa sesungguhnya pendapat minoriti itulah yang layak diikuti.”

Beliau juga menjelaskan apa yang terjadi dalam perang riddah (perang melawan kaum murtad) pada zaman Abu Bakar ra. “Adapun pendapat majoriti pada awalnya sangat cenderung untuk memerangi kaum murtad dan tidak melakukan rekonsisliasi dengan mereka. Tapi, pendapat minoriti yang dipimpin oleh Abu Bakar as-Shiddiq bertekad untuk tetap memerangi orang-orang murtad itu dan tidak toleran terhadap mereka sedikit pun. Diskusi itu akhirnya berakhir dengan beralihnya pendapat majoriti peserta musyawarah ke dalam pendapat Abu Bakar setelah beliau mampu memberikan penjelasan yang memuaskan mereka. Tatkala kesepakatan itu hendak laksanakan maka mereka yang bertentangan dengan pendapat ini adalah orang yang pertama yang berusaha segera melaksanakannya, mengorbankan segala yang mereka miliki, harta anak-anak  dan diri mereka sendiri.

Keteladanan agung yang menyempurnakan prinsip-prinsip syura’, pada masa kita sekarang ini akan menjadi terapi kukuh untuk meruntuhkan kekuatan demokrasi. Kerana kita dapat melihat realiti yang terjadi bahawa demokrasi telah mengalami kegagalan besar dalam menerapkan prinsip-prinsip syura’. Sebab utamanya adalah sistem demokrasi tetap memberi peluang kepada pendapat minoriti untuk mendikusikan (mendebat) kembali pendapat majoriti yangsudah menjadi keputusan melalui syura’, menciptakan keraguan, pesimis terhadap hasil dan manfaat yang akan dicapai, dan mengelak dari perasaan turut bertanggungjawab.” (At-Tasyri’ Al-Jinaai, juz pertama, hlm. 93-41)                                                                                                                               

Ustadz Sayyid Quthb rahimahullah menegaskan pentingnya segera melaksanakan keputusan yang telah menjadi kesepakatan. Beliau berkata, “Sebuah hakikat yang terdapat dalam aturan-aturan Islam adalah takkan sempurna, kecuali bila kita menerapkan ayat yang lainnnya. Oleh kerana itu, kita melihat bahwa syura’ tidak selamanya berakhir pada keputusan yang lebih kuat, dan tak pernah cukup untuk sentiasa bertawakkal kepada Allah sebagai akhir perjalanannya syura’ yang dilakukan. Allah berfirman, ‘Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.'” (Al- Imran: 159)

Peranan syura’ sesungguhnya ialah menggali setiap pendapat yang ada kemudian memilih satu atau lebih dari beberapa pendapat yang disampaikan. Apabila pendapat itu telah menjadi keputusan bersama (secara majoriti), maka peranan syura’ itu pun telah selesai,dan selanjutnya beralih kepada tahap pelaksanaan yang mesti dilakukan dengan penuh kesungguhan, semangat, disertai dengan tawakkal kepada Allah atas hasil akhir yang Ia berikan, kerana Dialah yang berhak menentukan buah dari hasil kerja manusia. Itulah pendidikan rabbani yang diajarkan oleh Rasulullah saw. tentang syura’,cara mengutarakan pendapat dan gagasan, serta kerelaan untuk menerima segala akibat dari pelaksanaannya, walau itu membawa ancaman besar terhadap kehidupan ini. Beliau juga memperlihatkan sebuah keteladanan dalam proses pelaksanaan hasil syura’, bertawakkal kepada Allah, dan berserah diri atas keputusan yang Ia berikan. Maka, beliau pun segera keluar meninggalkan kota Madinah,berdepan musuh di medan Uhud.

Dalam tema yang lain, Ustaz Sayyid Quthub berkata “Adapun bentuk kesempurnaan sebuah syura’,maka ia sesungguhnya tidak tercetak dalam sebuah cetakan besi yang tak dapat berubah sedikit pun, tapi senantiasa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan setiap ruang dan waktu, sehingga cetakan itu dapat melekat dalam kehidupan jamaah islamiyah. Aturan-aturan Islam sesungguhnya bukan aturan yang kaku, dan bukan pula nash-nash yang mesti diterjemahkan secara harfiah. Tapi, dia adalah semangat yang tumbuh dari hakikat keimanan yang berakar dalam hati, di mana perasaan dan jiwa secara langsung beradaptasi dengan hakikat ini. Mencari bentuk-bentuk aturan Islam tanpa peduli terhadap hakikat keimanan yang ada di balik ini semua, maka ia takkan mendapatkan hasil sedikit pun. Ini bukanlah ucapan membabi-buta tanpa kontrol, sebagaimana menampaknya ketakutan pada wajah-wajah orang yang tidak mengetahui hakikat keimanan terhadap aqidah islamiyah.”

Beliau juga berkata bahwa, “Tatkala kaum Muslimin memperoleh kebenaran dan menemukan hakikat iman yang bersemayam dalam hati mereka, maka aturan-aturan Islam itn akan bangkit dengan sendirinya. Akan muncul sebuah potret kehidupan yang sesuai dengan kaum Muslimin, lingkungan dan keadaan mereka. Dan, pada saat itulah seluruh prinsip-prinsip Islam akan terealisasi dengan baik.”

 

Beberapa Syarat yang Mesti Dipenuhi bagi yang Melakukan Syura’

  1. Adanya iman yang jujur, kerana syura’ adalah aplikasi nilai-nilal keimanan yang terkait dengan shalat dan respon terhadap seruan dan perintah Allah.
  2. Mengetahui manhaj Allah.
  3. Pengetahuan yang cukup mengenai segala permasalahan atau topik yang terkait dengan syura’.
  4. Tujuan syura’ yang jelas, bahwa itu dilakukan untuk mencari kebenaran melalui segala usaha yang dilakukan oleh setiap orang beriman yang komitmen terhadap manhaj Allah. Tujuan sesungguhnya bukan hanya semata-mata kerana benarnya keputusan yang diambil, tapi yang jauh lebih penting dari itu ialah diperolehnya keberkahan dan ini adalah ibadah yang mendekatkan kita kepada ketaqwaan.
  5. Kita juga hendaknya dapat memahami bahawa, sesuatu yang benar boleh saja tidak menjadi kesepakatan majoriti. Tapi, kita tidak boleh menentang hasil yang dicapai scbagai keputusan syura’. Semua pihak mesti lega menerima keputusan itu dan selalu bersedia untuk pengambilan keputusan lain sesuai dengan prinsip-prinsip syura’.
  6. Semestinya kita mengetahui jangkauan syura’ yang mungkin skalanya dapat diperluas atau dipersempit sesuai dengan tema yang akan dimusyawarahkan dan keadaan yang dialami oleh jamaah.

 

Beberapa Masalah yang Terkait dengan Pelaksanaan Syura’

1.      Hal apakah yang dimusyawarahkan?

Dalam tafsir al-Jashash dijelaskan bahwa meminta saran atau nasihat berlaku pada masalah dunia dan agama yang tidak ada wahyu Allah tentang itu. Adapun caranya dikembalikan kepada Allah dan Rasub Nya saw. Atau sesuai dengan manhaj Allah, sehingga tak satu pun hasil yang disepakati bertentangan dengan manhaj Allah Azza wa Jalla.

2.      Apakah Peserta Syura Dipilih atau Ditentukan?

Kedua hal ini dapat dilakukan dan ditentukan oleh pihak penanggung jawab syura’ sesuai dengan pengetahuan yang ia miliki terhadap kemampuan individu, situasi, dan tempat, tapi menjadi persyaratan pada setiap situasi dan keadaan. Hendaknya mereka yang dipilih untuk terlibat dalam syura’ memenuhi kriteria dan syarat-syarat yang telah disebutkan sebelumnya.

3.    Apakah Penanggung Jawab Syura Diangkat Melalui Musyawarah
atau ditentukan?

  • Penanggung jawab umum (Pemimpin atau Khalifah) terlebih dahulu mesti dibai’at.
  • Penanggung jawab cabang dapat diangkat melalui kedua cara di atas, sesuai dengan keadaan, situasi, dan sepengetahuan penanggung jawab umum terhadap keahlian setiap pribadi, serta kemampuannya memikul peran dan tanggung jawab yang dibebankan padanya.

Ustadz Abdul Qadir Audah menulis dalam bukunya Al-Ahkaam As’Sukhaniah dengan kalimat berikut. “Tugas para hakim dalam menetapkan undang-undang ialah mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam menjaga kemuliaan agama ini dan memimpin dunia. Scorang hakim juga dinamakan sebagai imam (pemimpin) dalam terminologi ahli fiqih.” Beliau selanjutnya berkata, “Imamah dan khilafah—sebagaimana yang dikatakan oleh para fuqaha adalah akad resmi yang takkan terjalin erat, kecuali dengan keredhaan atau ikhtiar. Dengan adanya akad ini, seorang imam atau hakim mesti bertanggungjawab atas segala permasalahan yang terjadi dalam kehidupan internal dan eksternal masyarakat yang terkait dengan kemaslahatan mereka.” Oleh kerana itu, kita tidak pernah melihat seorang dari Khulafaur Rasyidin yang diangkat sebagai Khalifah, kecuali setelah mereka dibai’at oleh kaum Muslimin. Dan sesungguhnya syariat memberi peluang, bahkan mewajibkan bagi umat ini untuk mencabut seorang pemimpin dari kerusi kepemimpinannya, apabila ia tidak menunaikan syarat dan kewajiban-kewajiban yang telah digariskan untuknya.

Seorang Khalifah selayaknya membantu tokoh masyarakat dan pimpinan pasukan, atau berkonsultasi dengan mereka. Dialah yang berhak menilai mereka, atau mencabutnya dari jabatannya kerana pertanggungjawabannya kepada Allah terletak di atas bahunya atas tugas dan pekerjaan yang mereka lakukan. Maka, pertanggung-javvaban mereka dapat disamakan dengan pertanggungjawaban satu kelompok panitia, syu’bah, usrah, atau kelompok rihlah (rekreasi).

 

Medan Syura dalam Usrah

Kita ingin mengatakan bahwa syura’ bukan ilmu yang dipelajari atau sebuah wawasan pengetahuan yang dapat dinikmati oleh akal kita tapi dia adalah informasi dan kaedah yang mesti diikuti dan diterapkan agar ia mewujud menjadi sebuah tradisi serta sifat yang melekat secara individu maupun jamaah. Oleh kerana itu, kita mesti memperhatikan pendidikan syura’ di dalam usrah, agar ia tidak dianggap sekadar pengetahuan, tapi diaplikasikan secara ilmiah dalam setiap keadaan yang menwajibkan untuk itu, misalnya pada acara-acara berikut ini.

  1. Pertemuan Usrah
    • Pertemuan usrah yang dilakukan secara rutin diawali dengan proses syura’ yang menyepakati segala hal yang terkait dengannya, yakni waktu pertemuan, lokasi, tentatif program, tempoh masa pertemuan, dan cara melaksanakan program-program kerja yang direncanakan. Dan, kita tidak dapat berijtihad sendiri untuk menentukan sistem atau bentuk pertemuan.
  2. Rihlah (rekreasi)
    • Setelah murabbi menentukan pengurus rihlah, maka langkah berikutnya ialah melakukan syura’ yang membahas tentang waktu pelaksanaan rihlah, rentang masa rihlah, tentatif program,pengangkutan, dan penginapan, serta bentuk pelaksanaan program.Pengurus rihlah juga berperanan sebagai ketua dalam perlaksanaannya.
  3. Demikian pula pada acara-acara yang lain, seperti mabit bersama, usbu’ ruhi, seminar, dan sebagainya. Semuanya dapat terlaksana dengan baik  apabila  di awali dengan proses syura’.
  4. Komitmen terhadap apa yang telah menjadi kesepakatan dalam syura’, dan segera melaksanakannya.
  5. Syura juga dilakukan guna menyelesaikan segala permasalahan dan rintangan yang menjadi salah satu agenda usrah, di mana hal-hal semacam ini dapat dibincangkan bersama dengan anggota usrah lainnya bila situasi memungkinkan.
  6. Apabila murabbi menentukan beberapa program kerja agar dapat dilaksanakan oleh salah seorang anggota usrah, maka hendaklah ia mematuhinya dengan segera melaksanakannya. Apabila ia memiliki pendapat lain, maka hendaklah ia menyampaikannya dengan cara yang pantas. Sebagaimana kita semua mengetahui bahwa tak ada kewajiban taat kepada manusia (pimpinan) dalam kemaksiatan, tapi ketaatan hanya pada yang ma’ruf(baik).
  7. Apabila ada tema yang menjadi bahasan syura’, maka mereka yang berada pada level pimpinan, murabbi atau naqib, semestinya tidak memilik saham pengaruh dalam proses syura’ (diskusi) yang sedang berlangsung, apakah ia terlebih dahulu melontarkan gagasan dan pendapatnya sehingga yang lain terpengaruh, atau memberi komen terhadap pendapat seorang ikhwah sebagai bentuk persetujuan atau penolakannya, juga tidak menentang pendapat mereka selama gagasan tersebut berada dalam bingkai syariat. Yang mesti mereka lakukan ialah mendengarkan dengan saksama pendapat setiap mutarabbi dan tidak menyela pembicaraannya sehingga ia menyelesaikan penjelasannya.
  8. Setiap anggota jamaah mesti berani menyampaikan pendapat dan gagasannya yang aktual serta bermanfaat setelah ia mendengar penjelasan kawan-kawannya yang lain. Semoga apa yang ia utarakan semakin memperjelas topik yang didiskusikan.
  9. Apabila terjadi perbezaan pendapat saat berdiskusi, maka semua peserta syura’ hendaknya memahami dengan baik seni dan etika berbeza pendapat. Perbezaan itu hendaknya tidak merosakkan cinta terhadap sesama ikhwah. Persaudaraan bagi kita jauh lebih penting dan utama dibandingkan dengan keberhasilan kita mencapai kesepakatan pada satu masalah tertentu.
  10. Masalah yang didiskusikan dinnggap selesai apabila ada kata muafakat atau persetujuan. Bila tidak, maka mesti dilakukan undi yang membuat semua pihak mematuhi hasil suara majoriti. Dan apabila suara kedua belah pihak seimbang, maka pendapat murabbi yang akan menentukan keputusan akhir.
  11. Dalam perspektif amal jamaie menyatakan bahawa syura’ mesti tetap dilakukan dalam setiap keadaan atau semuanya wajib melibatkan diri dalam syura’ pada proses pengambilan keputusan, apakah itu dalam level usrah atau pada level yang lebih tinggi. Apabila seorang anggota memiliki catatan dan input, maka hendaklah ia mengajukannya sesuai dengan cara yang seharusnya,

 

Leave a Comment