Menegakkan Tiang Ukhuwah
Kesulitan yang kita hadapi di sepanjang jalan dakwah ini tidak seberapa kalau nak dibandingkan dengan anugerah dan kurniaan Allah yang sangat besar dan hanya dirasakan oleh mereka yang beriman yang saling memelihara ukhuwah di atas nama Allah.Jasad kita boleh tercedera manakala darah, air mata dan peluh boleh meluncur keluar tapi semuanya tidak boleh menghilangkan nikmat persaudaraan atau ukhuwah di jalanNya.
Namun, bagaimanakah kita boleh memiliki nikmat ukhuwah itu?
Di jalan ini, kita mesti mampu :
- Memelihara sikap lemah lembut
- Berusaha menjaga hubungan baik dengan teman seperjuangan.
Mari kita susuri beberapa ungkapan seorang ulama’ dakwah Dr. Adil Abdullah Al-Laili Asy Syuwaikh di dalam kitabnya “Musafir di dalam kereta dakwah” :
Sebahagiannya menerima seruan dakwah tersebut dan sebahagiannya lagi menolak. Mereka yang menerima seruan dakwah ini berpotensi menjadi orang-orang pilihan, yang mampu bersikap zuhud dan berkeperibadian rahib di tengah dominasi syahwat dan kebendaan ketika ini.
Orang-orang inilah yang dikatakan sebagai para musafir dakwah yang sedang melakukan perjalanan menuju Allah untuk mendapatkan syurgaNya.
- ‘Manual’ hidup mereka adalah Al Qur’an dan As Sunnah.
- Surat pendaftaran kenderaannya adalah iman dan amal.
- Visanya adalah keikhlasan dalam beramal.
- Bekalan perjalanannya adalah taqwa.
Perjalanan mereka menaiki kereta dakwah iaitu suatu simbol musafir para aktivis dakwah.
Siapa sahaja yang berhasil melakukan perjalanan dengan para pendakwah dalam kafilah ini, bererti ia akan mampu hidup dengan manusia yang lain dan ia juga akan berhasil menasihati dan mengarahkan mereka kerana ada seorang mukmin yang baik bagi dirinya namun ia kurang baik bila ia bergabung bersama orang lain dalam kafilah ini.”
Sepertimana ketika kita melakukan perjalanan yang sebenarnya, seorang musafir mesti menolong saudara-saudaranya dalam perjalanan.
- Perhiasan di saat bahagia.
- Pelindung di saat kesulitan.
Itu pula yang menjadi sebab kenapa para pendakwah di zaman ini menjadikan ukhuwah sebagai salah satu syarat dalam bai’ah (janji keanggotaan) mereka.
Dalam `Risalah Ta’lim’ , Imam Hasan Al-Banna menyebutkan :
“Hendaknya hati dan jiwa mereka (para anggota) terikat dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah ikatan paling kuat dan paling mulia. Ukhuwah adalah saudara keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara kekufuran. Awal kekuatan adalah kekuatan persatuan. Tidak ada persatuan tanpa cinta. Paling minima cinta yang tumbuh di antara mereka adalah bersihnya hati dari perasaan yang tidak baik dengan sesama mereka. Dan cinta yang paling tinggi adalah `itsar’ atau mendahulukan kepentingan saudaranya.”
Ukhuwah yang dikehendaki juga tidak boleh secara berlebihan, ertinya, cinta tidak boleh mengabaikan asas keadilan dan tujuan hingga membawa kepada sikap fanatik buta dan `ta’ashub’.
Syariat Islam melarang kita terlalu :
- Keras dalam mencaci.
- Berlebihan dalam memuji.
Neraca untuk mampu mencintai dengan adil adalah dengan melakukan `tawashi’ atau saling mewasiatkan dalam kebenaran.
Seseorang mestilah mampu :
- Menasihati saudaranya.
- Mengingatkannya untuk kembali pada kebaikan.
- Memerintahkannya untuk menghindari larangan Allah.
Dalam kerangka itu, seorang pendakwah sebagaimana seorang musafir :
- Perlu berbicara dan bertukar fikiran dengan teman seperjalanannya.
- Mesti mampu menyampaikan kritikan atau menolak pendapat.
Memang, ada sebahagian orang yang memandang bahwa :
- Penolakan atau kritikan adalah sebahagian dari kebencian.
- Dialog itu dapat membawa kepada perselisihan.
Seorang manusia akan tetap berbeza pendapat kerana mereka memang berbeza dalam hal :
- Pemahaman dan akal.
- Pengetahuan dan pengalaman.
- Perasaan dan pandangan.
Namun, yang diperlukan adalah bagaimana seseorang boleh memandang pendapat yang dianggapnya tidak benar itu bagi diberi masukan (input) dengan baik.
Berdiskusi dan berhujah tetap diperlukan untuk menjelaskan kebenaran dan menjelaskan jalan.
Jika itu tujuan dan matlamatnya, maka segala :
- Kritikan.
- Pembetulan.
- Hujahan.
- Diskusi.
- Penolakan.
Imam Ibnu Taimiyah menyebutkan dalam kitab ‘Majmu’ Al Fatawa’nya bahwa para sahabat Rasulullah saw juga berdebat dalam menyelesaikan suatu masaalah melalui musyawarah dan saling menasihati namun mereka tetap memelihara kedekatan, kebersihan niat dan persaudaraan dalam agama.
Maka dari sinilah para ulama’ terdahulu pun biasa saling tidak sepakat dalam suatu masalah.
Diskusi di antara para pendakwah itu penting kerana ianya akan dapat :
- Memperluaskan pemikiran.
- Mempertajamkan pandangan.
- Meluruskan kesalahan.
- Memperbaiki kesilapan.
- Saling tolong menolong dalam kebaikan.
Imam Syafi’ie pernah ditanya apakah kemampuan akal itu merupakan potensi yang dibawa sejak dari kelahiran?
Beliau menjawab :
“Tidak, tapi akal itu adalah hasil dari pergaulan dengan ramai orang dan berdiskusi dengan mereka.”
Berkata Ibnu Abbas ra :
“Mengunyah garam dalam sebuah jamaah masih lebih baik daripada memakan manisan dalam perpecahan.”
Ada persiapan yang mesti dilakukan agar seseorang dapat memiliki kesediaan untuk melontarkan pendapat dan menerima kritikan dengan baik.
Menurut Imam Al Mawardi dalam kitabnya `Adabu dunya wa din’ :
“Yang paling utama adalah kesediaan meringankan beban saudara kita.
Ini adalah kerana, bagaimana seseorang mahu mendengar dan menyahut dengan baik jika ia masih memiliki beban yang menghantui dirinya.
Oleh yang demikian, untuk menjalin ukhuwah yang tulus, seseorang mesti memiliki keyakinan dahulu akan kasih sayang sahabatnya.
Permulaan haknya adalah meyakini kasih sayangnya, kemudian :
- Menjalin persahabatan dengannya dengan memberi keluasan padanya pada selain yang haram.
- Menasihatinya baik secara sembunyi atau terang terangan.
- Meringankan bebannya.
- Menolongnya dari apa yang menimpa dirinya.
Apabila hati bersih, maka ia akan semakin bersedia menerima nasihat dan mendengarkan nasihat namun apabila hati ternoda dan terkesan dengan berbagai masaalah seperti kesibukan, kesakitan, keletihan, kecintaan kepada dunia, kepentingan diri dan sebagainya, maka semua itu akan menghalangi seseorang untuk mendengar dengan teliti.
Kemesraan ukhuwah di jalan Allah dibangunkan di atas empat (4) perkara :
- Saling kenal mengenal (ta’aruf).
- Saling memahami (tafahum).
- Saling tolong menolong (ta’awun)
- Saling berkongsi beban (takaful).
“Tak kenal maka tak cinta” adalah sebuah peribahasa yang sudah akrab di telinga kita.
Rasulullah saw bersabda :
“Seorang mukmin itu makhluk yang cepat mesra, maka tidak ada kebaikan pada orang yang tidak cepat mesra dan tidak boleh dimesrai.” (HR Ahmad dan Thabrani)
`Ta’aruf’`yang baik dan mendalam diharapkan akan :
- Mengurangkan kekeringan dan keretakan hubungan sesama muslim.
- Membuatkan hati menjadi lembut serta mampu melenyapkan bibit perpecahan.
- Timbulnya rasa persaudaraan yang kokoh.
- Berseminya rasa kasih sayang yang mendalam antara penggerak dakwah.
- Munculnya rasa tanggung jawab yang besar.
- Menjadikan setiap aktivis dakwah memiliki jiwa besar untuk bersedia menerima dan memberi kepada sesama saudaranya.
- Mempunyai keterpautan hati.
- Saling bertoleransi.
- Saling berkompromi untuk perkara-perkara yang mubah.
Semua karakter kesukuan mesti lebur dalam tradisi `tafahum’ dalam ukhuwah walaupun kedekatan tradisi dan budaya juga bermanfaat bagi kejayaan dakwah.
Imam Malik pernah berkata :
“Lihatlah orang dengan kebenaran dan jangan sebaliknya, iaitu engkau lihat kebenaran dengan orang.”
Puncak `tafahum’ ada pada tahap “berbicara” pada satu bahasa di mana sebagai satu karakter khas yang mewarnai seluruh aktivis jamaah dakwah adalah mereka berfikir dengan pola pemikiran yang satu dan berbicara dengan bahasa yang satu.
Sesiapa yang tidak memahamkan dirinya dengan konsep `tafahum’ ini akan gagal memasuki tahap ukhuwah berikutnya, iaitu `ta’awun’.
Jika cinta kepada Allah telah menembusi jantung setiap dada umat ini maka sifat ‘ta’awun’ merupakan salah satu ciri yang melekat seutuhnya. Saling tolong menolong antara aktivis dakwah tidak mungkin wujud jika setiap individu dilanda penyakit ‘wahn’, pengecut dan lemah.
`Takaful’ tidak semestinya bahu membahu dalam memberikan jaminan kebendaan. Ia boleh dalam bentuk bahu membahu :
- Menunaikan kerja.
- Saling membela orang yang dizalimi.
- Saling mengirim doa.
“Di sekitar Arasy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para nabi atau syuhada’. Para nabi dan syuhada cemburu kepada mereka.” Ketika ditanya para sahabat, Rasulullah menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai kerana Allah, saling bersahabat kerana Allah dan saling berkunjung kerana Allah.” (HR Tirmizi)
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang menjalinkan hubungan ukhuwah antara sesama kami semata-mata keranaMu. Sesungguhnya tiada tujuan lain kami berada di atas jalan dakwah ini melainkan untuk sama-sama menjadikan kalimahMu tinggi dan terpacak kuat di muka bumi ini. Jauhkanlah kami dari menuntut apa-apa kepentingan dari saudara-saudara kami dalam kami bersahabat dan bersaudara di jalanMu yang mulia ini.
Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS





ukhwah sesama islam amat penting.Moga Allah pelihara kita semua.